Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Lima Petualang Kuadran (Bagian 2)

Mereka menuju hutan seram, disana mereka menemukan beberapa macam buah “semuanya hati-hati buah disini tidak semuanya dapat dimakan, ada yang beracun”. Semuanya menjawab “iya kak !!” namun entah kemana Bo pergi, dia menuju buah yang sangat besar dan keliatan sangat lezat, “hmm kliatannya buah ini enak” sambil memandangi buah tersebut. Semuanya mencari Bo “bo” “bo” semuanya berteriak seperti itu kebingungan kemana perginya si Bo, tidak lama si Be menemukan si Bo tergeletak “lihat !! itu Bo dia sedang tertidur” semuanya berlari kea rah Be dan “astagaa, dia makan buah sebesar ini ? apa dia takkan kenapa-napa kak ?” Bu bertanya kepada Ba. “entahlah kita lihat saja efeknya ketika dia sudah bangun, cepat kalian angkat dia”. Mereka semua mengangkut Bo keluar dari hutan, ternyat mereka telah sampai di desa rakyat Space. Rakyat Space adalah rakyat yang tidak berpihak, karena mereka adalah rakyat yang miskin, sehingga terkadang mereka dibantu oleh rakyat Alphabet dan Number. “kenapa dengan...

Lima Petualang Kuadran (Bagian 1)

Di sebuah planet bernama Kuadran hiduplah seorang anak bernama Ba dia dalah anak pertama dari lima bersaudara yaitu Bi, Bu, Be, dan Bo. Ba adalah anak yang rajin bekerja dan suka melakukan hal yang tidak wajar namun tetap hala demi adik-adiknya. Orang tua mereka telah tiada karena peperangan antara kerajaan Alphabet dan Number yang menyebabkan planet Kuadran hancur sebagian, namun setelah duapuluh tahun berlalu planet kuadran dikuasai oleh raja Four, dia adalah pemimpin jahat yang berasal dari kerajaan Number dia ingin menghabiskan rakyat Alphabet demi menguasai planet Kuadran dengan rakya Number yang keji dan jahat. Suatu ketika Bo saudara paling kecil berjalan di daerah pembuangan, dia bermain dengan senangnya walaupun disana adalah tempat pembuangan, saking senangnya dia tidak sengaja menyenggol penahan dan akhirnya semua rongsokan itupun berantakan dan Bo diketahui oleh penjaga tempat itu Bo berteriak dan segera berlari ke tempat persembunyian rakyat Alphabet, secara tidak la...

Bayang: #8 Cahaya Telah Menghilang

Gambar
Kali ini hanya langit-langit kamar yang menjadi pemandanganku, menunggu seseorang tiba dalam pelabuhan dalam hati ini, mendengar indahnya lantunan nada “My Love” ya lagu yang sangat popular di kalangan remaja pada tahun 1998 hingga 2002 ya itu dimana aku masih muda, sangat-sangat muda. Aku sudah menjalani hubungan teman iya sih Cuma teman, dengan si Cahya, ya meskipun kita berdua hanya berteman tapi hubungan kita hampir gak ada jarak yang jauh, kita sangatlah dekat. Nanti sore aku berjanji dengan Cahya untuk makan di warung langganan kita berdua. Jam di dinding menunujukkan angka 7 pagi, ya dengan suasana yang dingin disertai hujan secara mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya, aku hanya tidur dan memperhatikan seisi kamarku, aku merasakan nyamannya kamarku ini. tapi entah kenapa dengan suasana kamar yang begini aku menjadi kangen sama si Cahya. Emang sih tadi malam dia ninggal aku tidur, jadinya mungkin dia udah bangun, kucoba telpon ternyata nihil hasilnya, aku mencoba mengelab...

Bayang: #7 Api Yang Menyejukkan

Gambar
Setelah lama menunggu akhirnya aku mendapatkan angkot, terlihat dari luar angkot gelap pekat, tanpa berpikir panjang aku langsung masuk ke angkot itu. Ternyata di dalam sini ada ibu-ibu yang sedang membawa dua orang anak, yang pertama kira-kira berumur 3 tahun dan yang satu lagi masih bayi sekitar 5 bulanan. Anak yang pertama bertanya dengan polos ke ibunya “ibu, kita akan pergi kemana ?” dalam sekejap aku langsung melihat kea rah jalan yang sedang diguyur hujan deras. Aku terkaget “kita akan ke rumah nenek nak” sambil mengelus rambut anaknya dengan rasa iba dan berkaca-kaca di matanya. Entah apa yang aku rasakan, tersentak aku bertanya “rumah neneknya dimana bu ?” aku mengageti sang ibu tadi. “rumah ibu saya ada di pasuruan mas” sambil menunduk beliau berbicara. “Oh, ibu ada uang untuk perjalanan kesana ?” aku bertanya iba, kemudian sang ibu menjawab “ya punya sih mas tapi cuman sepuluh ribu”. Tanpa berkata-kata lagi aku langsung mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu, “ini ...

Bayang: #6 Hujan Yang Menghangatkan

Gambar
Ketika langit hitam pekat mengelilingiku hanya ada lampu pertokoan yang menemaniku, aku menyusuri daerah pejalan kaki yang basah telah terguyur hujan. Rasanya dingin basah suasana seperti ini mengingatkanku pada seseorang yang pernah ada dalam pikiranku. Ya, dia adalah kenangan masa smp ku dulu, kini aku telah belajar di universitas ternama di kotaku aku masuk dengan jalur undangan atau snmptn. Aku ingat dulu kita pernah jalan berdua di sini, rasanya masih menempel perasaan itu, tapi sudahlah itu hanya masa lalu yang indah namun kelam. Aku menuju keramaian untuk melihat-lihat kain yang sangat sangat dibutuhkan. “bang, ini harganya berapa ?” tanyaku pasti, “itu 75.000 ribu le” entah apa yang dipikirkan pedagang itu, hanya sepetak lahan dipinggir jalan tapi mampu menjual kain semahal itu, aku tetap menusuri jalan untuk mencari sesuatu yang berharga bagiku. Tak jauh aku melangkah terdapat warung   yang berjualan soto dalam hatiku berkata “lumayan nih, dingin-dingin makan ...

Bayang: #5 Malam Yang Hening

Gambar
“yan kamu masih suka gak sama aku ?” rasanya aku beku mendengar kata-kata itu, aku tak bisa menoleh melihat dirinya, ingin mengucap satu kalimat saja sulit rasanya. “kalo misalnya kamu masih suka sama aku, maaf ya aku gak bisa sama kamu soalnya aku udah ada yang punya” *jleeeeb*   Tiba-tiba dari kejauhan “hai Vin !!” suara itu menggema di telingaku Ternyata dia adalah Ulin, dia adalah musuhku sejak SD. Tapi dulunya emang kita adalah sahabat baik sihh sebelum suatu kejadian terjadi di antara kita. Kita kembali ke waktu itu tepatnya ketika kita berdua akan melakukan wisuda, sebelum hari H kita masih baik-baik saja, kita masih bercanda tertawa bersama riang gembira melalui kisah sedih bersama *apaan sih -_-*. Namun di hari H pada saat pembacaan puisi si Ulin kan membaca puisi tapi tanpa sadar pas dia jalan mau kedepan panggung tanpa sengaja aku mengulurkan kakiku dan dia pun terjatuh, pada

Bayang: #4 Menghilang

Gambar
Pada saat hari itu aku liat salah satu acara di tv salah satu artis bicarain cara pacaran anak cowok Indonesia mungkin gak semuanya tapi bisa dibilang ini ciri khas kali ya hehe, jadi dia bilang pdkt ato pacarannya cowok Indonesia itu mesti dan sukanya Tanya “lagi ngapain ?”, “sudah mandi ?”, “sudah sholat ?” tapi jujur ya aku juga gitu sih... kalo gak ada bahan pembicaran lagi. Mungkin kalo udah jadi istrinya orang Indonesia kita bakal di perhatiin banget kali ya pasti bakal sering ditanyain “udah pengajian di tetangga sebelah ?”, “udah pkk di balai kota ?”, “udah arisan di tetangga sebelah ?”, “udah bersihin rumah ?”. mungkin kalo kita para cowok gitu, kita bisa jadi wartawan kali ya ? nanyain orang dijalan “lagi ngapain ?”, hmm ya begitulah kira-kira. Beberapa hari setelah aku main ke rumahnya, aku telah melakukan pedekate ya meskipun itu lewat sms sih. Ketika padangnya rembulan mengintip jendela kamarku, aku berbaring menanti sebuah surat engkau yang ada di dalam hati yang pa...

Bayang: #3 Tahap Awal

Gambar
Kutanya dia “apa kamu gak papa ? maaf ya aku tadi gak ngliat kalo ada kamu”, dengan suara yang lembut dan halus dia menjawab “iya gak papa kok, aku gak kenapa-napa”. Dia masih tertunduk karena bukunya yang berserakan di lantai ruang BK, kubantu dia mengambil bukunya dengan sedikit ke melirik tipis ke wajahnya. Astaga... paras seperti bunga mawar yang berwarna merah merona. “ngomong-ngomong namamu siapa ?” tanya dia ke aku, *Masih mengambil buku* “siapa ? aku ?” jawabku mengagetkannya, “iyalah, siapa lagi coba” jawabnya dengan ketus, “hehehe namaku rian, la namamu ?” tanyaku berbalas, “namaku vina, salam kenal ya, kamu dari kelas berapa yan ? dia bertanya sambil tersenyum, “aku dari kelas IPA 4, kamu ?” karena sama-sama kelas sebelas jadi kata kata sebelasnya gausah diikutin juga, gitu sih tradisi di sekolahku. Dia menjawab “ohh, bareng yuk ke kelasnya !” sambil tersenyum mengajakku. Dengan semangat aku menjawab “siap deeeh hehehe”

Bayang: #2 Ruang BK

Gambar
Kulihat sekeliling mereka melihat ke arahku dengan garis paras yang ketakutan, seperti ada singa lapar yang akan menerkamku. Hmm... tanpa kusadari singa itu ada tepat berada di depanku. sial di sekolah aku hari ini firasat bakal kena marah guru. Eitss... tapi tunggu dulu cerita ini belum selesai sampai sini, sebelumnya namaku Utorian ya... panggil saja Rian umurku baru 16 tahun. kurang lebih satu tahun lagi mungkin bisa dapat ktp, kenapa bisa kurang ? siapa tahu sebelum umur 17 aku udah nikah , bisa aja kaan ? tapi enggak mungkin laah aku ingin tetap menggali ilmu , yap dalam menggali ilmu ada kisah hidupku yang senang dan sedih, canda tawa dan haru, semua bercampur jadi satu dalam kisahku.

Bayang: #1 Hitam dan Putih

Gambar
Sinar matahari menembus kaca bening dan mencoba untuk meraba tubuhku, tidak terlalu lama aku mulai berjuang bangun dari tidur lelapku tiba-tiba.... krriiiiiing suara alarm handphone ku berbunyi. Tapi berat rasanya untuk bangun dari pelabuhanku, tak lama itu aku ingat kalau aku ada janji dengan seorang cewek.  Merasa aku sudah terlambat aku bergegas bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi membasuh semua badanku, dingin rasanya merasakan air mengalir turun dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aku bergegas menuju meja perjamuan, hanya ada empat potong roti, dan sewadah selai coklat,mereka seakan melambai-lambai pada diri yang kekosongan isi perut, aku memakan semua roti tanpa ada rasa bersalah dan berdosa. Pada roti dan selai itu sendiri tentunya.