Lima Petualang Kuadran (Bagian 2)



Mereka menuju hutan seram, disana mereka menemukan beberapa macam buah “semuanya hati-hati buah disini tidak semuanya dapat dimakan, ada yang beracun”. Semuanya menjawab “iya kak !!” namun entah kemana Bo pergi, dia menuju buah yang sangat besar dan keliatan sangat lezat, “hmm kliatannya buah ini enak” sambil memandangi buah tersebut. Semuanya mencari Bo “bo” “bo” semuanya berteriak seperti itu kebingungan kemana perginya si Bo, tidak lama si Be menemukan si Bo tergeletak “lihat !! itu Bo dia sedang tertidur” semuanya berlari kea rah Be dan “astagaa, dia makan buah sebesar ini ? apa dia takkan kenapa-napa kak ?” Bu bertanya kepada Ba. “entahlah kita lihat saja efeknya ketika dia sudah bangun, cepat kalian angkat dia”. Mereka semua mengangkut Bo keluar dari hutan, ternyat mereka telah sampai di desa rakyat Space. Rakyat Space adalah rakyat yang tidak berpihak, karena mereka adalah rakyat yang miskin, sehingga terkadang mereka dibantu oleh rakyat Alphabet dan Number. “kenapa dengan anak anda tuan ?” Tanya salah satu rakyat, “apa ? kamu kira ini anakku ? ini adik saya” Bi memarahi rakyat tersebut, “sudahlah Bi” Ba coba menenangkan Bi. “gini pak ini adik saya memakan salah satu buah besar di tengah hutan tadi”, “oh.. gitu” mereka yang ada di dalam rumah salah satu penduduk itu terdiam sejenak. Tiba tiba.. “APA !!?? dia memakan buah besar di tengah hutan ?” serentak semua yang ada di dalam kaget “bapak ini kenapa sih ? tidak usah mengkagetkan kenapa ?” Bi kesal. “bukannya begitu tapi buah itu dapat menyebabkan adikmu ini menjadi monster mematikan ?” terang penduduk tersebut. “APA !!??” Ba, Bi, Bu, dan Be serentak kaget “kalian ini knapa sih ? biasa aja loh”, celoteh penduduk tersebut. “bukannya gitu pak, adik saya akan jadi monster apa pak ?” Tanya Ba, “dia akan menjadi monster terong yang kejam dan mematikan” terang penduduk, “bagaimana cara mengatasinya pak ?” Tanya Bu, “hanya ada salah satu caranya, salah satu dari kalian harus mencari cabe diujung kanan hutan itu dan membawanya kemari sebelum matahari esok tenggelam”, istri dari penduduk tersebut membawakan lima saudara tersebut makan malam “ini nak makan dulu, pembicaraannya dilanjutkan nanti saja”, “oh iya bu, tidak usah repot-repot” celoteh Bu. Mereka melahap semua makanan yang diberikan istri penduduk dengan sangat lahap, sampai-sampai mereka lupa menanyakan nama keluarga tersebut.

 tidak lama setelah itu mereka semua tertidur lelap, namun Be tidak bisa tidur karena kepikiran sang Bo dia menulis surat untuk izin mecari cabe di hutan tersebut tanpa diketahui ketiga saudaranya yang tertidur lelap. Be diam-diam menyelinap pergi dengan peralatan seadanya yang terdapat pada jubah yamg dibuatkan oleh Bu, dia yakin dapat mendapatkan Cabe tersebut. Matahari telah menampakkan sinarnya semua berencana mencari cabe tersebut tetapi Bo dan Be hilang, entah kemana, surat yang seharusnya berada di Bo juga hilang. Mereka mencari hingga ketengah hutan dengan dibantu oleh penduduk sekitar namun tidak ketemu juga, ketika sudah lelah mencari mereka kembali ke rumah “astagaa !!” hampir seluruh desa rata dengan tanah “monster terong telah tiba”, salah satu penduduk mengucapkannya. “siapkan senjatamu adik-adikku, kita akan menghadapi ini” Ba menyuruh adik-adiknya. “roooaaarrrghh” monster terong tersebut muncul dari dalam tanah dan mencoba menyerang penduduk, Ba yang akan menyerang tiba-tiba berpikir “tidak, ini adalah adikku, aku tidak akan membunuhnya”, “semuanya tangkap monster itu tanpa harus melukainya !!!” Ba menyuruh semua penduduk untuk bergerak. “siiiaaaap”. 

 Be telah sampai diujung kanan hutan dan disana dia bertemu penjaga cabe raksasa “kau ingin cabe ini ? bunuh aku terlebih dahulu” kata penjaga cabe tersebut. “itu yang kau mau ? akan kukabulkan permintaanmu”. Tidak lam Be menyerang penjaga cabe tersebut dengan kapak yang ada di tangannya, dia berhasil menyerang, cabe tersebut terbelah dua, namun cabe tersebut menjadi dua. “apa ? tidak mungkin seperti ini”. “hahaha kenapa ? jangan kaget melihatku” meskipun dia terbelah menjadi dua namun dia menjadi lebih kecil dari ukuran sebelumnya. Be berpikir “hmm apabila terus kupotong dia akan menjadi lebih kecil lagi dan aku semakin mudah mengambil cabe tersebut, baiklah akan kulakukan”. Be langsung dengan cepat menyerang si penjaga cabe namun selama apapun yang Be lakukan lama sekali apa yang dilakukan Be tersebut matahari hampir terbenam, dan Be belum mendapatkan cabe tersebut. “apa yang harus kulakukan lagi kak ?” dia terlihat gagal. Tidak lama kapak yang dipegangnya berubah menjadi sebuah arwah gajah dan berbicara kepadanya, “apa yang harus kamu lakukan ? yakinlah pada dirimu sendiri Be”. Kemudian dia sekali lagi memukul kapaknya ke tanah dengan keras akhirnya penjaga cabe tersebut terpental jauh dan Be mendapatkan Cabe yang didapatkannya tersebut. Karena matahari akan terbenam di memkulkan kapaknya sekali lagi ke tanah dan diapun terpental kea rah desa yang telah siap dengan monster terong yang diikat di tengah desa. “Be kau ini kemana saja ?” Tanya Bu dengan amarah, “maaf aku harus mencari cabe ini demi adikku, lagipula aku sudah menulis surat untuk kalian” jawab Be, “surat ? surat yang ada di perut Bo ?” Tanya Bu, “iya, itu surat”. “maaf be aku membuat kapal-kapalan dari suratmu itu” jawab Bu malu, “dasar kau ini bu, yasudah yang penting ini cabenya sudah aku dapatkan”. Dia mendulang cabe itu di mulut Bo dan tidak lama Bo berubah menjadi manusia kembali. “terima kasih pak, atas penginapannya selama ini, kamu berlima berterima kasih kepada bapak sekeluarga, kami pergi dulu”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepeda Tua (Bagian Kedua) : Jauh Disana

H.E.R.O

Sepeda Tua (Bagian Pertama) : Manis Pahit