Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

Sepeda Tua (Bagian Kedua) : Jauh Disana

 Keesokan hari Ray memikirkan bagaimana car mendekati Kina dengan cara yang cepat, dia terpikir juga menggunakan sepeda kayuh. Setibanya di sekolah nafas Ray seperti berhenti karena dia juga lama tidak berolahraga dia harus duduk selama beberapa menit dan dia semakin haus Karena lupa tidak membawa minum. Seketika Kina datang “minum ? mau mati ya ?” dengan menawarkan sebotol minum Ray melirik tajam, tetapi sektika luluh karena itu adalah Kina. “gue minta ya ? haus nih” minta Ray, “iya silahkan saja”, jawab Kina. “gimana ? udah baikan ?” , Tanya Kina. “iya lumayan nih, makasih ya”, “lima ribu” minta Kina, “apa ? lima ribu ? mending gue mati aja tadi daripada harus bayar” cetus Ray, “yausdah mati aja sekarang udah untung gue kasih minum, ke wc aja bayar” jawab Kina sambil terkekeh-kekeh. “ini sudah, lunas ya utang gue”, sambil memberikan uang lima ribu meskipun agak heran dengan Kina”. Mereka diam sejenak dan Kina tiba mengulurkan tangan “gue Kina, lu sekelas sama gue tapi gue g...

Sepeda Tua (Bagian Pertama) : Manis Pahit

...Malang, Desember 2006... Dia mengemasi beberapa barang yang menurutnya penting, dengan wajah sangat sedih dan berat hati dia harus meninggalkan rumah kesayangannya dan harus berpindah yang sebenernya juga tidak jauh dari rumah lamanya, mungkin hanya berpindah kecamatan saja. “apa kita harus benar-benar meninggalkan rumah ini ? Bu ?” Tanya Ray kepada Ibunya, “iya nak, kita relakan saja rumah ini, untuk orang lain”. Semua selesai dan Ray menaiki mobil bak terbuka dengan wajah basah meneteskan air mata dia meninggalkan kenangan manis dan pahit kepada rumah masa kecilnya. Tak lupa sahabat-sahabat melambai dari jauh seolah tidak akan pernah bertemu dengannya lagi, memang keluarga Ray tidak memberitahu tetangganya kemana mereka akan pindah rumah.