Bayang: #8 Cahaya Telah Menghilang

Kali ini hanya langit-langit kamar yang menjadi pemandanganku, menunggu seseorang tiba dalam pelabuhan dalam hati ini, mendengar indahnya lantunan nada “My Love” ya lagu yang sangat popular di kalangan remaja pada tahun 1998 hingga 2002 ya itu dimana aku masih muda, sangat-sangat muda. Aku sudah menjalani hubungan teman iya sih Cuma teman, dengan si Cahya, ya meskipun kita berdua hanya berteman tapi hubungan kita hampir gak ada jarak yang jauh, kita sangatlah dekat. Nanti sore aku berjanji dengan Cahya untuk makan di warung langganan kita berdua. Jam di dinding menunujukkan angka 7 pagi, ya dengan suasana yang dingin disertai hujan secara mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya, aku hanya tidur dan memperhatikan seisi kamarku, aku merasakan nyamannya kamarku ini. tapi entah kenapa dengan suasana
kamar yang begini aku menjadi kangen sama si Cahya. Emang sih tadi malam dia ninggal aku tidur, jadinya mungkin dia udah bangun, kucoba telpon ternyata nihil hasilnya, aku mencoba mengelabui perasaanku dengan mendengarkan lagu yang “slow”. Tapi tanpa kusadari aku tertidur pulas sampe jam 9. Aku mendapat balasan dari Cahya dia meminta maaf karena tadi lagi cuci-cuci baju. Aku menjawab dengan santai “oke, gak papa kok, nanti jam 4 aku ke rumahmu”.


Di sore harinya, entah kenapa ketika aku dirumahnya dia terlihat tidak semanagat, tetapi dengan pakaiannya dia terlihat sangat cantik, karena itulah aku semakin tertarik untuk membuatnya tersenyum dengan menyiapkan strategi untuk mendapatkannya lagi hari ini dalam hati aku tertawa lepas. “ayo yan” dia mengajakku keluar tanpa senyuman , “oke, ayo nyonyakuu”, aku menjawab bercanda dia hanya memandangiku seolah-olah aku aneh. Ketika hampir sampai di warung tiba tiba hujan mengguyur deras “sepertinya ini lanjutan hujan tadi pagi” kataku sambil menghibur si Cahya, “*tersenyum* keliatannya sih yan”. Kita berdua memasukki warung. Sambil makan, kita bernostlgia masa-masa smp ya tapi kali ini bernostalgia dengan pemilik warung juga, sampai sampai orang lain dilarang beli katanya sih hal seperti ini hanya untuk Aku dan Cahya, tapi itu bukan hal yang membahagiakanku selain membuat si Cahya tersenyum dan tertawa lepas bersamaku tidak seperti sebelumnya, sudahlah jangan dipikirkan.
Sambil menikmati es krim di tangan aku dan Cahya berjalan di trotoar menuju tempat kita berdua nogkrong bersama, yap di jembatan yang bawahnya terdapat kereta api lalu lalang
“ya, apakah kamu merasa ada yang aneh dengan aku ?” aku bertanya,
“hah ? ya enggaklah yan, emangnya kenapa ?” dia menjawab dengan enjoy,
“hmm... gimana ya” sambil menulis sesuatu, di jembatan itu,
“ah kamu ini jangan misterius gitu dong, jangan jangan kamu mau minjem duit yaa ?” sambil menggelitikku
Aku menjawab “hahaha kamu ini tau aja, emang kamu punya duit berapa ?” walaupun sebenarnya dalam hati bukan itu yang ingin kuucapkan.
“oiya yan, sepulang jalan-jalan ini bisa anterin aku pulang terus ke stasiun gak ?” Cahya mengajakku,
“oke, siap nyonya emangnya mau kemana kok ke stasiun ?”
“hmm... aku mau pergi yan” dia kembali mengeluarkan raut sedihnya
“loh ? kamu mau pergi kemana ?” *es ku jatuh*
“aku mau ke Bandung untuk kuliah dan kerja disana yan” dia meneteskan air mata,
“apa kamu sudah memikirkan itu bulat bulat ya ?” aku melihat wajahnya yang basah,
“aku enggak tau yan, aku sebenarnya masih pengen disini, masih pengen sama kamu, aku pengen menghabiskan waktu bersamamu yan” jantungku seolah olah berhenti mendengar kata-kata itu, aku hanya bis terdiam, termenung.
“yan, ayo kita pulang” dia mengajakku pulang
“iya ayok ya” kita berdua menuju ke parkiran sepeda motor,
Setelah sampai dirumahnya
“cahya, maaf ya aku tidak bisa nganter kamu, aku udah di sms nih” aku mencari alasan karena aku tidak kuat melihatnya pergi.
“iya tidak apa apa kok yan” dia tersenyum manis, maniiis sekali, mungkin ini senyuman manis terakhir kepadaku.
“oiya ya, kalo ganti nomor atau apa hubungin aku ya, sering kabari keadaanmu juga ya, mungkin sewaktu waktu aku bisa menjengukmu kesana”
“pasti dong yan hehehe” sambil mengedipkan satu mata lalu mencium pipi sebelah kiriku,
“jaga dirimu baik baik ya cahya” dalam hatiku berkata.
Ketika perjalanan pulang entah apa yang kurasakan air mata ini sangat deras turun, memikirkan si Cahya, dan aku bertekat untuk kuliah yang giat kemudian kerja keras untuk bisa menjemput si Cahya kembali ke Malang dan hidup bersamanya. Sebenarnya aku menunggu Cahya di stasiun kereta api untuk melihatnya pergi, dan mungkin untuk terakhir kalinya aku melihat dia, ahh tidak aku sudah bertekad untuk menjemputnya kembali. Tak lama dia datang bersama kedua orang tuanya dan adiknya mereka menangis haru dan mendoakan kesuksesan Cahya di Bandung, dann aku hanya bisa melihat dari kejauhan dan berdoa semoga Cahya baik-baik saja. Aku menuju ke jembatan yang tadi aku berduaan dengan si Cahya, aku melanjutkan ukiranku disana, sambil melihat kereta si Cahya melintas di bawahku, entah apakah Cahya melihatku dari bawah sana, aku tak peduli aku hanya ingin dia baik-baik saja.
Lama waktu yang kulalui berpisah dengan si Cahya aku belajar giat dan akhirnya aku lulus dari dunia perkuliahan, kini aku bekerja sebagai pemilik perusahaan ternama di daerahku ya meskipun aku telah sukses tapi aku belum memiliki seorang pendamping dalam hidupku. Yap hari ini aku berencana mengunjungi rumah Cahya untuk mengetahui dimana Cahya tinggal di Bandung untuk menjemputnya . ketika dirumahnya “eh nak rian, gimana perusahaannya ?” Tanya ibu Cahya
“Alhamdulillah berjalan lancer te, Cahya sendiri gimana sekarang te ?” aku sengaja menyanyakan keadaan Cahya,
“iya, Alhamdulillah sehat juga kok, oiya ada kabar gembira buat nak rian dari cahya” mendengar perkataannya aku sanga antusias,
“oiya bu ? gak sabar nih apaan te ?”
Tidak lama, ibu Cahya keluar dari kamarnya dan membawa selebaran kertas yang bertuliskan nama Cahya dan nama pasangannya.
“ini nak, kabar gembira Cahya akan menikah, datang ya nak rian” kata ibu cahya dengan gembiranya,
“oh, iya pasti te, saya pasti datang” sebenarnya dalam hati tidak rela namun mau gimana lagi ?
“ini te, ada barang dari kantor saya untuk tante, oiya saya pamit dulu y ate, masih banyak urusan lagi” aku berpamitan yaa sebenernya bukan ada urusan sih, tapi karena hati ini yang tak mampu menahan sebenarnya. Aku kembali menuju ke tempat terakhir aku berdua dengan Cahya, ya di jembatan itu lagi, aku melihat ukiran ku waktu itu aku terlihat bodoh dengan lancang menulis *forever with you* ya mungkin emang cinta yang pernah kumiliki kini tak harus dimiliki lagi. Aku merenung melihat indahnya lampu kereta dan mendengar gesekan antara roda kereta dan lintasannya. Kemudian... “hai...” aku menoleh ke arahnya, dan siapa yang kulihat ? ya Cahya dengan baju yang terakhir digunakannya pada waktu terakhir kali ia kenakan bersamaku waktu itu “masih disini ya ?” sambil membawa es krim yang sama waktu itu,
“ya tau sendiri lah” aku sambil tersenyum “gimana keadaanmu ?” tanyaku,
“ya cukup baik hampir tidak bisa beradaptasi aku disana” jawab dia penuh kedewasaan,
“hmm, syukurlah kau tidak mati disana” jawabku bercanda,
“hey, kau ini tidak gitu juga ya” dia menjawab ketus dan cemberut,
“hahaha, tak usah kau pikirkan” aku tersenyum,
“oiya, yan seandainya kau menembakku pada hari itu, aku mungkin tidak akan bersama cowok lain sekarang, maafin aku ya, sebenernya aku juga terlalu berat meninggalkanmu di Malang” bicaranya pelan,
Aku hanya terdiam dan menutup mataku menahan air mata ini agar tidak leleh dihadapannya, ketika aku siap menjawab dan kubuka mataku ternyata ya hanya halusinasiku saja tapi aku tetap menjawabnya, “yaa tidak papa meskipun aku hanya sendiri sekarang tanpamu, aku ikut bahagia bersamamu” -THE END-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepeda Tua (Bagian Kedua) : Jauh Disana

H.E.R.O

Sepeda Tua (Bagian Pertama) : Manis Pahit