Bayang: #7 Api Yang Menyejukkan
Setelah lama menunggu akhirnya aku mendapatkan angkot,
terlihat dari luar angkot gelap pekat, tanpa berpikir panjang aku langsung
masuk ke angkot itu. Ternyata di dalam sini ada ibu-ibu yang sedang membawa dua
orang anak, yang pertama kira-kira berumur 3 tahun dan yang satu lagi masih
bayi sekitar 5 bulanan. Anak yang pertama bertanya dengan polos ke ibunya “ibu,
kita akan pergi kemana ?” dalam sekejap aku langsung melihat kea rah jalan yang
sedang diguyur hujan deras. Aku terkaget “kita akan ke rumah nenek nak” sambil
mengelus rambut anaknya dengan rasa iba dan berkaca-kaca di matanya. Entah apa
yang aku rasakan, tersentak aku bertanya “rumah neneknya dimana bu ?” aku
mengageti sang ibu tadi. “rumah ibu saya ada di pasuruan mas” sambil menunduk
beliau berbicara. “Oh, ibu ada uang untuk perjalanan kesana ?” aku bertanya
iba, kemudian sang ibu menjawab “ya punya sih mas tapi cuman sepuluh ribu”.
Tanpa berkata-kata lagi aku langsung mengeluarkan selembar uang lima puluh
ribu, “ini buat ibu jangan lupa juga anaknya dibelikan kue atau minum ya bu”.
Ibu itu menangis “nak makasih yaa, semoga kesuksesan datan menghampiri ibu
berterima kasih dan berdoa untuk mas”. “iya buk, makasih ya atas doanya”. Tak
lama kemudian sang ibu dan kedua anaknya itu turun, setelah angkot ku berjalan
lumayan jauh ibu dan kedua anaknya itu langsung menaiki bis umum malam. *teet
teet* jam tanganku berbunyi, ternyata supir angkot yang kunaiki juga kaget dia
bertanya “ada apa mas ?”, “oh enggak pak, ini jam tangan saya berbunyi”.
Sekitar limabelas menit berlalu aku telah sampai di halte dekat rumah, hujan
kini redah aku santai berjalan kaki untuk pulang ke rumah. Setibanya di rumah
aku langsung menuju ke peraduan untuk beristirahat, mataku sudah tak kuat
menahan rasa capek tadi *clunting* hapeku berbunyi, ternyata ada yang sms aku.
10.33
0876546xxxxx : “hai yaan, gimana kabar ?”
0876546xxxxx : “hai yaan, gimana kabar ?”
10.34
aku : “ini siapa ya ?”
aku : “ini siapa ya ?”
10.38
0876546xxxxx : “ini aku cahya, yang tadi ketemu di halte”
0876546xxxxx : “ini aku cahya, yang tadi ketemu di halte”
10.38
aku : “owalah, kamu toh aku sih baik-baik aja, kamu sendiri ?”
aku : “owalah, kamu toh aku sih baik-baik aja, kamu sendiri ?”
10.40
Cahya : “baik juga, lagi banyak kesibukan sih, bisa gak hari sabtu nonton ?”
Cahya : “baik juga, lagi banyak kesibukan sih, bisa gak hari sabtu nonton ?”
10.42
aku : “hmm gimana yaa ?”
aku : “hmm gimana yaa ?”
10.45
Cahya : “oke jam 5 sore yaa, jangan sampe telat nyusul aku, bye”
Cahya : “oke jam 5 sore yaa, jangan sampe telat nyusul aku, bye”
Ya setelah perbincangan di sms ini, ternyata aku tahu kalo
dia adalah Cahya. Karena perbincangan ini aku jadi gak bisa tidur, saking
senenganya perasaan ini campur aduk antara seneng, sedih dan berharap dia
kembali kepadaku.
Hari
sabtu telah datang mulai pukul tiga aku menyiapkan ragaku untuk hari yang
special bertemu dengan si tambatan hati, mulai dari mandi, make up baju sih,
bukan make up wajah loh !!, aku sudah menyiapkan motor mio kesayanganku untuk
menjemput sih Cahya. Setengah lima aku berangkat ke rumahnya, sekitar lima
belas menit aku mengendarai aku telah sampai di rumahnya. *toktoktok*
“Assalamualaikum” aku berteriak di depan rumahnya, kemudian datanglah ibunya
membukakan pintunya,
“eh dek Rian, udah gede nih sekarang ? bagaimana kabar ibu di rumah ?”, aku menjawab “Alhamdulillah ibu baik-baik saja”,
“oiya sampe sebentar saya ambilkan minum dulu ya dek rian”,
“gausah repot repot te” larangku sebenarnya modus,
“alah, anggap rumah sendiri dek”, dalam hatiku “baiklaah”.
“eh dek Rian, udah gede nih sekarang ? bagaimana kabar ibu di rumah ?”, aku menjawab “Alhamdulillah ibu baik-baik saja”,
“oiya sampe sebentar saya ambilkan minum dulu ya dek rian”,
“gausah repot repot te” larangku sebenarnya modus,
“alah, anggap rumah sendiri dek”, dalam hatiku “baiklaah”.
Tak lama, minumku datang namun si Cahya belum kunjung keluar
dari peraduannya, tapi... tak lama setelah itu *jeng jeng* di berjalan bak
angsa, rambut seperti gelombang air laut di pantai banyuwangi, matanya indah
seperti mawar, menggunakan baju terusan dengan rok sedikit diatas lutut
berwarna putih, dia terlihat seperti putrid yang jadi ulang tahunku pada waktu
itu, dalam mimpi sih tapi. Seketika “hai yan, cepat diminum, jadi nonton gak ?”
“oh, iya ya, jadi kok” aku langsung menggunakan jaket jeansku dan berpamitan ke ibunya,
“te, saya ngajak keluar cahya nya dulu ya”,
“iya nak hati-hati yaa, cahyanya dijaga”,
“ahh, ibu ini apa aja deh”, celoteh cahya.
“oh, iya ya, jadi kok” aku langsung menggunakan jaket jeansku dan berpamitan ke ibunya,
“te, saya ngajak keluar cahya nya dulu ya”,
“iya nak hati-hati yaa, cahyanya dijaga”,
“ahh, ibu ini apa aja deh”, celoteh cahya.
Kami berdua salim ke ibunya, dan bergegas berangkat ke
bioskop. Selama perjalanan dia selalu mengajak ngobrol kepadaku tapi aku gak ngerti
apa yang dia omongkan karena aku terlalu serius untuk mengendarai sepeda
motorku sehingga aku tak menghiraukan si Cahya. Ketika sampe di bioskop kita
berdua berjalan layaknya pasangan kekasih yang telah lama jatuh cinta. Ketika
kita di dalam bioskop karena ac nya terlalu dingin Cahya sedikit mepet ke
arahku karena sudah lama gak ketemu, aku sedikit canggung ke Cahya. Aku mulai
sedikit meraba-raba mencari jemarinya, ketika bersentuhan tangannya kaget
sepert .habis kena setrum, dengan
melihat ke arahku dengan senyuman manisnya. Kemudian tanpa banyak waktu di
memegan tanganku, dipegangnya erat-erat seperti akan datang pemisah antara
kita. dia menyandarkan kepalanya di bahuku kelihatannya dia
nyaman dan tidak
ingin waktu seperti ini cepat berlalu, kubalas dengan mengelus lembut rambut di
kepalanya. Ketika aku sedang menikmati film tiba tiba “yan, kalo kamu deket
cewek lain gak kuat aku melihatnya” seketika tatapannya memelas aku merasa
tidak tau apa yang terjadi hari ini, apa ini mimpi ? atau kenyataan ? entahlaah.
Kemudian aku menjawab “sementara ini sih aku lagi kosong kok ya” dia melihatku
dengan senyumnya yang manis dan dia semakin mendekat ke aku, yang tadi udaranya
dingin kini menjadi hangat, sampai sampai badanku keringatan “sialaan apa yang
terjadi padaku !!??”, aku bergumam dalam hati. Sesudah menonton film cahya
mengajakku makan di mecdi *bukan nama sebenarnya*. “yan mau makan apa ? aku
traktir kok” dia mengajakku“loh ? beneran nih ?” tanyaku bercanda,
“iya sayaaangku”, dia menggandeng tanganku dan menarikku ke mecdi, entah apa yang ia pikirkan sehingga dia memanggilku saying kembali. Sejujurnya kangen juga sih dipanggil *saying* tapi untuk kali ini kliatannya Cuma sekedar temen aja deh. “makan apa mas rian ?” dia menawariku seolah-olah dia adalah pegawainya, “ahh kamu ini” aku tersipu malu melihat sikapnya yang kekanak-kanakan. Ketika aku makan berdua dengannya kita saling bercanda ria, mengenang masa lalu kita berdua yang yaa bisa dibilang masih cinta monyet lah.

.jpg)

Komentar
Posting Komentar