Bayang: #6 Hujan Yang Menghangatkan



Ketika langit hitam pekat mengelilingiku hanya ada lampu pertokoan yang menemaniku, aku menyusuri daerah pejalan kaki yang basah telah terguyur hujan. Rasanya dingin basah suasana seperti ini mengingatkanku pada seseorang yang pernah ada dalam pikiranku. Ya, dia adalah kenangan masa smp ku dulu, kini aku telah belajar di universitas ternama di kotaku aku masuk dengan jalur undangan atau snmptn. Aku ingat dulu kita pernah jalan berdua di sini, rasanya masih menempel perasaan itu, tapi sudahlah itu hanya masa lalu yang indah namun kelam. Aku menuju keramaian untuk melihat-lihat kain yang sangat sangat dibutuhkan.

“bang, ini harganya berapa ?” tanyaku pasti,
“itu 75.000 ribu le” entah apa yang dipikirkan pedagang itu, hanya sepetak lahan dipinggir jalan tapi mampu menjual kain semahal itu, aku tetap menusuri jalan untuk mencari sesuatu yang berharga bagiku. Tak jauh aku melangkah terdapat warung  yang berjualan soto dalam hatiku berkata “lumayan nih, dingin-dingin makan yang anget-anget”. Tampang memelas seakan-akan belum makan satu minggu aku mulai menyodorkan suaraku
“buk, soto sama teh anget satu”

“siap nak, tunggu yaa”, hanya dalam sekejap “ini nak soto dan teh nya”
Aku terkejut astaga cepatnya “oh, iyaa bu (sambil menerima soto)”
Ketika aku sedang menikmati soto ini, tiba tiba si ibu bertanya “kok udah gak lama ke sini le ?”
Aku kembali terkejut dengan sigap aku bertanya “loh ? ibu kok bisa kenal saya ?”
“ya kamu dulu sering kesini sama cewek kamu itu, siapa namanya ? aya ? siapalah itu ibu lupa namanya”, dia berkata seolah-olah dia tau apa yang terjadi,
“owalah, cahya ? loh ? itu kan udah lama sekali bu ? kok ibu masih hafal sama saya ? saya sama cahya kan udah waktu smp, ibu kok masih hafal saya ?” aku bertanya penuh penasaran,
“iya emang, nak kan kamu terakhir kesini sudah lama, ibu masih hafal kok kamu udah lupa ?” ibu itu bertanya serius kepadaku,
“iya bu, banyak tugas di sma sekarang aja agak legaan dikit, soalnya baru masuk kuliah” jawabku dengan wajah tertunduk,
“loh nak ? udah kuliah toh ? ya sekarang aku manggilnya bukan nak lagi tapi mas dong hehehe” celoteh ibu tersebut membuatku tersenyum,
“hahaha iya suka suka ibu aja saya sih oke-oke aja” sambil menikmati soto,
“oiya mas namanya siapa ? ibu gak tau namanya mas”
“nama saya rian bu, kenapa emangnya ? jangan-jangan saya punya hutang yaa ? hahaha” tanyaku bercanda ke si ibu penjual soto,
“hahaha ya enggaklah mas, soalnya mbak cahya sering makan disini sendirian, sering ngobrol juga sama ibu, gak jarang juga suka nanyain mas rian sering makan disini apa enggak” sejenak aku terdiam, angin bertiup kearahku membuat tubuhku merinding dan hangat, entah perasaan apa yang kurasakan sekarang rasanya hari-hariku mulai berwarna kembali.
“oiya bu, simpan nomer hp ku ya, siapa tau si cahya kembali kesini” aku bersiap menyocorkan nomer hpku
“oke nak (memberikan hpnya ke aku)”
“oiya bu, makasih yaa, ini uangnya ambil saja kembaliannya hahaha”
“waduh nak, eh mas ini sih gak ada kembaliannya” canda ibu penjual soto tersebut.
                Aku berjalan menuju halte menunggu angkutan lewat di depanku. sambil menunggu, hujan kembali turun seketika banyak sekali orang yang berteduh di halte ini tak terkecuali orang jualan bakso sekalipun, sekali-kali aku sempatkan untuk mendekat ke panci dagangannya yang panas untuk menghangatkan tubuhku. Ketika aku menikmati indahnya lampu kota yang dihiasi dinginnya hujan ketika petang tiba-tiba ada dua tukang becak yang adu cincong, memperebutkan soal tempat becaknya tersebut, aku dan orang disekitarku melerai kedua orang tersebut tak jarang juga aku mendapakatkan hadiah jotos pula dari salah satu tukang becak tersebut. Akhh... dengan merasakan sakit di wajahku, aku juga masih merasakan indahnya malam ini, tiba-tiba *bruukk* seketika kepalaku pusing dan mataku seketika buram. Tapi... “maaf mas, apa mas gak kenapa-kenapa ?” Tanya dia sambil khawatir,
“iya iya gak papa kok” sambil aku mengedip-ngedip kan mata supaya penglihatanku jelas kembali,
“maaf ya mas, saya tadi lari soalnya takut kehujanan lagi” dia bersuara, seolah-olah seperti orang yang sangat bersalah,
“iya –iya gak papa kok mbak” aku sudah bisa melihatnya dengan jelas, yaampuun entah apa yang kulihat kali ini dia   tanyaku gagap,
sangat cantik dan mengingatkanku pada si Cahya. Dengan rambutnya yang panjang bergelombang, sedikit kelebihan berat badan, dan di dahi sebelah kanannya terdapat tahi lalat, dan jangan-jangan dia memang Cahya, Cahya yang berbeda dari dulu karena perbedaan waktu. Aku mencoba bertanya “aa..apa kaa..kamu cah..ya ?”
“iya, aku cahya, dan kamu ? Rian kan ?” dia mengedipkan sebelah mata kepadaku,
“cahya ? ini benar kamu ?” aku meastikan seperti orang stress,
“iya yan, ini aku Cahya, jangan alay gitu ahh, seneng yaa ? ketemu orang cantik ? hahaha” dia menggodaiku,
“yaampun tambah cantik aja kamu ya, udah lama gak ketemu juga”
“iya dong, oiya nomer hapemu berapa ? keburu pulang nih aku, maaf ya” aku memberikan nomer hapeku kepadanya.
“makasih ya yan” dia pergi meninggalkanku, “iya sama sama ya” masih tidak percaya apa yang terjadi barusan. Sangat cepat pertemuanku dengan Cahya, tak terasa sudah berapa angkot yang sudah di depanku tadi, dankini jam menunjuk pukul setenga sepuluh malam, aku masih menunggu angkot untuk pulang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepeda Tua (Bagian Kedua) : Jauh Disana

H.E.R.O

Sepeda Tua (Bagian Pertama) : Manis Pahit