Bayang: #3 Tahap Awal

Kutanya dia “apa kamu gak papa ? maaf ya aku tadi gak ngliat kalo ada kamu”, dengan suara yang lembut dan halus dia menjawab “iya gak papa kok, aku gak kenapa-napa”. Dia masih tertunduk karena bukunya yang berserakan di lantai ruang BK, kubantu dia mengambil bukunya dengan sedikit ke melirik tipis ke wajahnya. Astaga... paras seperti bunga mawar yang berwarna merah merona.

“ngomong-ngomong namamu siapa ?” tanya dia ke aku,
*Masih mengambil buku* “siapa ? aku ?” jawabku mengagetkannya,
“iyalah, siapa lagi coba” jawabnya dengan ketus,
“hehehe namaku rian, la namamu ?” tanyaku berbalas,
“namaku vina, salam kenal ya, kamu dari kelas berapa yan ? dia bertanya sambil tersenyum,
“aku dari kelas IPA 4, kamu ?” karena sama-sama kelas sebelas jadi kata kata sebelasnya gausah diikutin juga, gitu sih tradisi di sekolahku.
Dia menjawab “ohh, bareng yuk ke kelasnya !” sambil tersenyum mengajakku.
Dengan semangat aku menjawab “siap deeeh hehehe”


Di sepanjang jalan kembali ke kelas, serasa kita berjalan di taman yang di kanan kirinya terdapat banyak pepohonan, lampu taman dan pastinya tempat romantis getoooh. Tiba-tiba..... ”cieee cieeee” Di depan kelas IPA 1 ada yang berteriak, ternyata... sahabatku yang kebetulan teman si Vina juga, yaitu Nila.
“waduh ketemu dimana nih ? kok udah pacaran aja ?” ketus si NIla
*aku sama Vina berpandangan heran* “apa yang kau katakana nil ?” aku Tanya heran,
“ya kalian ini, kapan deketnya ? kok udah jalan berduaan aja ? ada yang bakalan jadi gossip sekolah nih huhuhu...” dia langsung kabur dan meninggalkan kami berdua.
Ketika di depan kelas IPA 4, “Vin, aku masuk kelas dulu ya ? maaf ya aku tadi nabrak kamu di BK”
“iya gak papa kok yan *senyum manis*” di pergi ninggalin aku.

Di depan kelas kuperhatikan dia jalan layaknya angsa, lemah gemulai tapi lincah. OMAIGAAAAT !!! ternyata dia masuk kelas IPS 1, sudah hampir dua tahun aku sekolah disini tapi tak terlihat parasnya diantara kerumunan nawak-nawak ni.
*kringgg* akhirnya bel sekolah pun berbunyi, jarum pendek menunjukkan 90˚ dan jarum panjang di angka tiga, badan rasanya seperti habis diinjak ratusan gajah, nafas seperti habis mengejar usain bolt, messi dan ronaldo. Perut berbunyi seperti ada karnaval indoor yang diselenggarakan di perut.
Aku berjalan ke finger print, ternyata Vina juga sedang duduk-duduk disana, “hay vin !” sapaku,
“hay yan !” balasnya,
“di jemput tah ? kok masih di sekolah ?” tanyaku modus,
“enggak sih, lagi nungguin temen aja ”
“owalah, boleh aku temenin gak ? sambil nungguin temenmu itu ?” modus mode on hahaha, step 1 berhasil,
“boleh kok, aku malah seneng ada yang nemenin” jawaban ini nih yang paling kusuka,
“kalo boleh tau rumahmu dimana vin ?” tanyaku kepo,
“kepo banget deeh *barusan aja dibahas kalo aku kepo*, hihihi di jalan veteran rumahku, kenapa ? mau nganterin ?”
“ihh sotoy deh, wah deket rumahku tuh aku di jalan pahlawan kalo aku, boleh btw kan kita Cuma beda dua kompleks aja kan vin ?” jawabku serius, “iyaap” jawabnya cerdik.
Akhirnya temennya si vina datang juga, ini dia kesempatanku buat ngedeketin nih cewek. Perjalanan panjang kutempuh dengannya dan akhirnya sampai juga di rumahnya, dan ternyata di depan rumah sudah ada ibunya yang menunguu, wajahnya bersungut merah padam, badannya tegap layaknya monument nasional, berdiri di depan pagar persis rumahnya tapi tiba tiba kok.... “silahkan masuk dek, mau kerja kelompok sama vina ya ?” Tanya ibunya ramah, vina hanya berkedip dan senyum kepadaku, akunya sih rileks aja, diajak masuk kerumah cewek anak cantik, di dalam rumahnya aku dipersilahkan duduk dan si ibu2nya vina ngomong “ini mau kerja kelompok atau berduaan dulu ? tante tinggal dulu ya nak, dek”APAAAA ?!!! BERDUAAN !!??




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepeda Tua (Bagian Kedua) : Jauh Disana

H.E.R.O

Sepeda Tua (Bagian Pertama) : Manis Pahit