Bayang: #5 Malam Yang Hening



“yan kamu masih suka gak sama aku ?”
rasanya aku beku mendengar kata-kata itu, aku tak bisa menoleh melihat dirinya, ingin mengucap satu kalimat saja sulit rasanya.
“kalo misalnya kamu masih suka sama aku, maaf ya aku gak bisa sama kamu soalnya aku udah ada yang punya”
*jleeeeb*  Tiba-tiba dari kejauhan “hai Vin !!” suara itu menggema di telingaku
Ternyata dia adalah Ulin, dia adalah musuhku sejak SD. Tapi dulunya emang kita adalah sahabat baik sihh sebelum suatu kejadian terjadi di antara kita. Kita kembali ke waktu itu tepatnya ketika kita berdua akan melakukan wisuda, sebelum hari H kita masih baik-baik saja, kita masih bercanda tertawa bersama riang gembira melalui kisah sedih bersama *apaan sih -_-*. Namun di hari H pada saat pembacaan puisi si Ulin kan membaca puisi tapi tanpa sadar pas dia jalan mau kedepan panggung tanpa sengaja aku mengulurkan kakiku dan dia pun terjatuh, pada
awalnya aku ikut tertawa lepas bersama temanku yang lainnya, tapi kesenangan itupun sirna setelah dia menatapku penuh amarah dan kesakitan. Yaaa sejak hari itu dia mulai menjauhiku dan membenciku meskipun setelah itu aku udah minta maaf sih. Sudahlah lupakan.
Dia menyapa aku “hai yaan, udah lama gak ngobrol kayaknya kamu sama vina deket ya ?”,
Aku jawab “hai juga, iya lama kita gak ngobrol”,
“hmm yan, aku pulang dulu yaa” sahut Vina,
“iya vin silahkan” tersenyum kecil ku melihat mereka jalan berdua,
“yuuk pulang lin, mampir ke rumahku dulu yaa” ajak Vina ke mantan sahabtaku itu,
Habis itu aku pulang, dalam perjalanan rasanya air mataku tak bisa kutahan untuk keluar, akhirnya lepas juga air mata itu. Ciiiiiitttt *suara rem sepeda motor* dalam hati ku bicara “sialan nih suaranya bikin telinga cumpleng”, di depan ku juga ada nenek-nenek mau nyebrang jalan, kutanya dia “nenek mau nyebrang nek ?”
Nenek itu menjawab “iya cu, bisa tolong nenek ?”
“bisa kok nek”, Aku menolong sambil megang tangannya
“loh loh kamu kok pegang pegang aku sih cu ?” nenek itu berteriak kencang,
“katanya mau nyebrang nek ? ya tak pegangi taah” aku nyolot,
“iya iya cu, yaudah sebrangin gih nenek” ,
“ya ini kan udah di sebrangi nek” jawabku ketus, aku berlalu dan si nenek berterima kasih kepadaku.
Setelah sampai di rumah, banyak sekali makanan dan camilan di ruang tamu, serasa raja makanan itu kumakan semuanya, ya gak semuanya sih tapi banyak laaaah. Tiba tiba ibuku “loh-loh itu kan dibuat tahlil-an nanti malam yaan, kok dimakan toh ?”, aku tercengaaang melolo. Tibalah saatnya aku jadi kuli angkut ibuku dan mengganti jajan yang tadi kumakan dengan uang saku, dapet diskon nih uang saku ane.
Pas malamnya pas tahlil di rumahku, pas enak enaknya baca yasin ada pikiran yang menggangguku aku memikirkan si Vina bagaimana kalo dia tadi mau jadi pacarku yaah ? pasti rasanya seneng banget. Tapi setelah tahlil ayahku bertanya kepadaku “yan tadi pas tahlilan kamu kenapa ? kamu kayak orang kesurupan senyum sama ngomong-ngomong sendiri, orang yang tahlil jadi khawatir tadi”.
Beberapa bulan dan kelas 12 telah kulalui masih menjomblo seorang hamba ini, tapi ujian sekolah tetap akan berlangsung. Ini adalah hari terakhir hari ke 3 yang akan menentukan aku akan melangkah kemana selanjutnya. untungnya aku mendapat penjaga yang sangat ganas, mengintai seperti serigala yang kehausan darah, berkeliling secepet ganteng-ganteng ser*gala ganas deh pokoknya. Di pelajaran yang kedua aku merasakan sesuatu dalam perutku, aku ingat pagi tadi aku belum BAB yaampun rasanya gak bisa di-empet lagi pengen keluar. Akupun terpaksa ijin “pak, saya ijin ke toilet ya ?”
Bapaknya “mau apa kamu ?”,
Sambil megangin perut “mau anu pak, buang air besar”,
Bapaknya berdiri “yaudah saya antar”,
Aku nyaut “loh kalo nanti bau giaman pak ?”,
Bapaknya “tidak apa-apa, daripada kamu nanti bikin contekan”
Dalam hatiku yaudah terserah bapak aja laah.
Ketika dikamar mandi karena perutku tidak bisa diajak kompromi lagi, aku mengeluarkannya dengan sepenuh hati tanpa memikirkan si penjaga tadi, aku buang angin sebanyak-banyak mungkin, setelah selesai aku keluar dan melihat si Bapak tadi pingsan tergeletak di depan pintu kamar mandi yang kubuat BAB tadi, yaampuun sampe segitunya yaaa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepeda Tua (Bagian Kedua) : Jauh Disana

H.E.R.O

Sepeda Tua (Bagian Pertama) : Manis Pahit