Bayang Kecil : Memancing Ikan


“oi nanti mancing yuk !!” ajak Gozali.
 “hah ? mancing ? yakin Go ?” tanyaku.
“iyalah, sudah ayo alirannya gak deras kok” jawab Gozali
“ya tapi kan tetep aja” jawab Irul, baru pertama kali ini aku lihat Gozali sedikit ketakutan, ya kerana anak-anak pergi kesungai adalah hal yang mustahil di ijinkan orang tua, jadi hal seperti ini adalah hal yang harus nekat.
“yasudah kalau jadi nanti jam tiga sore ya, kumpul di jembatan” ajak Gozali
Setelah itu Gozali pergi pulang kerumah untuk makan siang, tetapi kita yang emang sedang ber-empat “gimana nih ? mincing apa enggak ?” Tanya Irul
“gimana ya ? aku bingung takut gabole” jawab Anwar
“aku keliatannya gaboleh” Dikri dengan menundukkan kepalanya
“yaah tapi gimana dong masa kita gak mancing  ? nanti Gozali kecewa ?” ujar Irul
“tapi apa kamu boleh rul ?” jawab Anwar sedikit resah
“ya gak tau juga sih war”, “gini aja mendingan kita turuti aja dulu siapa tau dia ajak orang tuanya pasti kan aman” ujar DIkri.
“wah iya boleh juga tuh, coba aja dulu” jawabku yang daritadi hanya terdiam
“emang lu mikirin apa sih yang ?” Tanya Dikri
“enggak, kita kan ber-enam kita mau mancing pake apa ? sedangkan aku gak punya peralatannya” ujarku
“oiya, ya !!!” semua serentak menjawab bersamaan
“kita alasan aja gak usah ikut karena gak punya peralatan, gimana ?” sahut Irul
“ya boleh aja sih” ujarku
“yasudah gitu aja lah ayo pulang lapar nih” jawab Anwar
Setelah berpisah aku mulai berpikir aneh-aneh apa iya Gozali mengajak kita mancing di sungai ? atau hanya dari jembatan ? entahlah aku juga berpikir bakal dimarahin bapak-ibu juga. Yausdahlah makan dulu aja lah. Siang itu aku hanya liat acara tv kartun, tanpa sadar ternyata sudah tepat jam tiga
“loh udah jam 3, ngumpul dijembatan nih”
Segera bergegas aku berlari aku siap-siap membawa senar yang biasa dibuat main layangan ya buat jaga-jaga meskipun gak punya.
“oyy cepat yan” ajak Irul
“eh rul, berubah pikiran ?” tanyaku
“iya daripada nganggur dirumah” jawab Irul
“yasudah ayo cepat rul” ajakku
Sesampai di jembatan, sudah ngumpul semua berenam jadinya semua ikut, dalam hatiku bertanya “loh kok ikut semua ?” cepet banget Gozali ngajak semuanya.
“ayo udah ? berangkat ?”
“yuuukk” kita menjawab bersama
Dalam perjalanan kita melewati pepohonan sambil bernyanyi riang lagu-lagu anak rasa inilah yang tidak pernah hilang dari masa kanak-kanak ya masa-masa keriangannya. Setelah beberapa menit.
“nih disini udah sampe” jawab Gozali
“waah ini sih deras sungainya apa kamu yakin ?” ya disini ikannya besar-besar.
Semua memasang wajah sedikit tidak yakin namun bagaimana lagi agar bisa membuat Gozali senang “nih umpannya cacing” kata Gozali
Dengan ragu ketujuh anak termasuk aku, ragu-ragu melempar umpan tersebut meskipun berbekal tali dan berharap tidak mendapat ikan sama sekali yang ada dipikiran kami hanya ingin cepat pulang.
Tak lama berselang kailku ditarik dengan keras
“hoii aku dapat berat tapi, bantuin aku” aku berteriak
“ayoo cepat-cepat” Gozali semangat
“wah ini kok berat banget yaa ayo lebih kuat !!” seru Irul
Berselang dua menit karena tidak dapat ditarik-tarik dan kita mulai capek dan ikannya pun mulai lemas juga, Gozali berkata “ayo ini yang terakhir yaaa tarik semampu kalian satuuu... duaaa.. tiigaaa”
“byuaaaaar” air muncrat banyak sekali, terlihat ikan sangat besar sekali dalam hati aku berkata “kuat gak kita bawa ikan ini ?” tetapi ketika air membasahi tubuh kami berdelapan.
“eh apa nih ? basah ?” aku keheranan
“eh ayo cepat bangun jangan tidur mulu udah telat mancing nih” celetuk Irul
“lah tadi itu ?” tanyaku
“tadi kapan ? daritadi kamu tidur mulu ayo cepat kita mancing di kolamnya pakdhe ku” jawab Gozali
“hah benarkah ? yasudah aku mandi dulu aku gak ikut mancing aku lihat aja yaa hehehe” jawabku terkekeh
“yaa cepetan yaa udah telat nih” ajak Irul. (WAH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepeda Tua (Bagian Kedua) : Jauh Disana

H.E.R.O

Sepeda Tua (Bagian Pertama) : Manis Pahit