Bayang Kecil : Jatuh Terbang


Orang-orang bergerombol keluar masjid berusaha mencari alas kaki mereka masing-masing, namun kita anak kecil masih menunggu masjid sepi karena kita tidak ikut sholat, karena ke asyikkan main sebenarnya hal ini tidak pantas ditiru namun ya namanya juga anak kecil yang masih gak tau apa-apa. Setelah hari telah malam, “ayok pulang, udah malem nih” ajak gozali. “iya ayok” jawabku, “oiya besok sore kita main layang-layang di lapangan biasanya ya” cajak Irul, “siap rul” kita menjawab serentak.

Hari telah berlalu, sore hari telah datang.

“kemana nih Gozali ?” tanyaku,

“entah, ayo coba kita jemput” jawab Irul,

Kita bertujuh menuju rumah Gozali,

“Goz Gozalii !!!!”

Dengan mata tersedu-sedu dia keluar

“kenapa kamu Goz ?” Tanya Anwar

“tali senar ku hilang” jawabnya

“aduh santai aja, ini punyaku aja”, jawabku

“beneran nih ?” seketika raut mukanya berbeda menjadi senang

“yasudah hayuuuk” ajak Gozali.

Ternyata disana sudah ada anak-anak kampung sebelah yang siap bermain dan menantang kami bermain layang-layang sebenarnya kita hanya mau saling sambit antar teman saja, tapi karena ada yang menantang ya rencana menjadi berbeda. Karena aku adalah anak yang paling gak bisa main layang, “yan, kamu beli senar yang kuat ya, ini uangnya”. Aku mengiyakan dan segera pergi. Lumyan jauh tapi semangat, aku berlari sebisaku.

(10 menit berlalu)

“Mana nih Rian ?” Tanya Gozali

“iya lama banget sih” jawab Anwar

“eh, itu dia!! Hey Rian cepet dong”

Aku hanya bisa melambai-lambai dan berlari

“nih jangan sampai kalah ya”

Ketika mereka bertanding, aku hanya liat terbangnya layang-layang kesana kemari dan uniknya ketika layang itu putus ada dua hal yang akan terjadi dan keduanya dipengaruhi angin yaitu tersangkut di pohon atau apapun itu dan didapatkan lagi oleh anak-anak yang bermain.

“yan layang itu putus tuh” teriak Anwar

“oke-oke” aku langsung berlari namun ternyata hanya berjarak seratus meter saja dan tidak terlalu jauh karena perjanjiannya bermainnya tidak terlalu tinggi. Berebut dengan anak lain hingga senggol-senggolan dan jatuh adalah hal biasa bagiku namun tidak bagi orang tuaku.

“nih aku dapat, main lagi yaa cepet habisini layangan mereka” celetukku

Setelah beberapa jam, karena aku terus berlari hingga capek, di akhir aku tidak mampu lagi berlari dan akhirnya kita kalah dalam bermain layang-layang ini.

“huuuuu cemen kalahan !!!” teriak anak kampung sebelah

“sudah-sudah gak papa” sahut Irul,

“ayo pulang dan mandi nanti kumpul di musholla kayak biasa” ajak Gozali.

Selepas sholat maghrib

“wah tadi seru juga ya, ryan lari mulu irul dan anwar terus-terusan menang meskipun gak mampu sampai akhir sih” Dikri memulai obrolan

“hahaha iya aku sampe kecapekan ngejar terus”, jawbaku

“siap, minggu depan kita gak boleh kalah lagi yaa” teriak Irul

“Allahuakbar Allahuakbar”

“eh udah isya ayo sholat dan berdoa supaya kita bisa menang main layangannya” ajak Gozali

“yesss ayoook” seru kita. (WAH)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepeda Tua (Bagian Kedua) : Jauh Disana

H.E.R.O

Sepeda Tua (Bagian Pertama) : Manis Pahit