Bayang Kecil : Kehilangan Berarti
Hari jumat pagi...
Bel sekolah berdering tetapi kawanku bernama Irul belum juga
menampakkan diri. Ku tinggal tadi dia di pos karena biasanya juga kita
berangkat ber lima tetapi karena lama kita terpaksa meninggalkan dia. Kukira
dia bakal kesiangan atau bolos sekolah karena ada pelajaran mat hari ini tetapi
biasanya dia kembali bersemangat ketika jam olahraga dimulai. Aku juga sama
seperti Irul sangat tidak suka dengan pelajaran matematika namun ya mau gimana
lagi ini sudah menjadi kewajiban seorang pelajar. Berjalan tigapuluh menit, Pak
Samat, satpam sekolahku mengetuk pintu,
*toktok* “permisi”
“iya silahkan” Bu Aris menoleh kearah pintu dan menghampiri
Pak Samat,
“eh pak samat, ada apa pak ?” Tanya Bu Aris,
“ini bu ada titipan surat dari Irul” ujar Pak Samat,
“oh iya pak terima kasih ya” kata Bu Aris,
“sama-sama saya kembali ke pos dulu bu” ujar Pak Samat,
Pelajaran pun dilanjut kembali setelah kami sekelas melihat
drama terpendek yang pernah kami lihat meskipun tokoh utama tak terlihat. Satu
jam pelajaran matematika berjalan dimana kelompok pembenci kelompok mat mulai
berhitung mundur untuk merayakan habisnya pelajaran ini ya meskipun aku masuk
dalam kelompok itu juga sih, tetapi aku masih penasaran dengan isi surat yang
diberikan Pak Samat kepada Bu Aris tersebut, dalam hati aku berkata “mungkin
aku harus melihat absen saat jam pelajaran ganti”.
*kriiiiiiing*
“haaaah” aku menghembuskan nafas panjang karena pelajaran
ini telah usai,
“yook !! ganti baju” ajak Gozali dengan semangat,
“ayo siapa cepat dia dapat nih” ujarku, karena kamar mandi
yang terbatas kadang kita harus berebut dan lari-lari hanya untuk ganti baju
olahraga.
Seperti biasa karena aku anak yang paling lambat, aku
rombongan terakhir yang sampai di lapangan “wah wah wah kalian lambat sekali
ya” ujar Gozali,
“eh udah dong Gozali” ujar Lita,
Akhirnya Pak Effendy selaku guru olahraga akhirnya datang,
“yak selamat pagi
anak-anak” sapa Pak Effendy,
“pagi pak” serentak kami menjawab sapa Pak Effendy,
“hari ini kita akan berlatih olahraga hulahup, tapi
sebelumnya kita akan pemanasan terlebih dahulu” terang Pak Effendy,
“yaaah kok main hulahup ?” kecewa para kelompok cowok,
“kapan main sepak bolanya pak ?” sahut salah seorang anak,
“ya nanti saya kasih waktu main bola di akhir jam, kalian
main ini saja dulu” terang Pak Effendy,
“yaaa baiklah pak” jawab kami dengan lemas,
Setelah pemanasan dan bermain hulahup dengan lemas dan
akhirnya tidak mendapat hikmah pelajaran olahraga tersebut, akhirnya Pak
Effendy mengakhiri sesi bermain olahraga dan memperbolehkan kami bermain bola.
“ayo bermain, bagi kelompok” kata Gozali bertindak layak bos
karena Irul tidak ada,
“ya baiklah” kami menjawab
aku satu grup dengan Gozali, aku mulai merasakan bagaimana
efeknya apabila tidak ada seorang Irul di kelas ini dalam suasana kelas maupun
olahraga,
“kalau tak ada Irul bakal kalah nih kita” kataku ke Gozali,
“sudahlah apa sih pentingnya Irul ? kan masih ada aku ? aku
juga jago kok” ujar Gozali,
“hmm pentinglah” jawabku pelan,
“ayo kita mulai” ajak Gozali
Bola pun mulai bergulir *karena
ini akan menjadi cerita yang panjang apabila saya ceritakan maka saya
persingkat saja langsung ke akhir cerita*
“woy crossing !!” musuh meminta bola
Aku siap-siap menendang untuk menahan laju bola, “yan
bolanya datang” ujar Gozali,
Aku menendang sekuat tenaga dan ternyata “gooolll” lawanku
kegirangan karena berbarengan dengan bel pulang sekolah.
“yah kita kalah lagi goz, ini gara-gara gak ada irul di tim
kita” ujarku,
“meskipun ada irul, kalau kamu bunuh diri sampai tiga kali
ya tetap saja kalah” ketus Gozali,
“ya maaf kan tidak sengaja tadi gak pas kena bolanya jadi
malah melintir ke gawang” ujarku minta maaf,
“iya gak papa lah” ujar Gozali
Dalam pikiranku masih terngiang kemana Irul hari ini, aku
tadi juga belum sempat melihat absen kelas karena kelamaan ganti baju olahraga.
Beginilah rasanya kehilangan seorang pengubah suasana dan juga sahabat sejati. (WAH)

Komentar
Posting Komentar