Bayang Kecil : Sekumpulan Mimpi (end)
“kriiiiiing” bel pulang sekolah berbunyi,
“Alhamdulillah” serentak satu kelas berucap seperti itu
termasuk aku juga, karena hari ini adalah hari terakhir aku uas semester dua
atau disebut ulangan kenaikan kelas. Semua sudah lupa dengan kesulitan
pelajaran yang mereka hadapi mereka sudah berbincang-bincang mengenai “liburan
ingin kemana ?” dan kata-kata “ayo main” terus terdengar di telingaku, aku
hanya mengiyakan kata-kata mereka, karena biasanya aku hanya mudik ketika hari
raya idul fitri, ataupun kalau ada tanggal merah yang lumayan panjang pergi ke
taman bermain atau semacamnya.
“hei yaaan” panggil Irul dari dalam kelas,
“hei” jawabku,
“ayo nanti main, mumpung ukk udah selesai nih” ajak Irul,
“iya, ayok meskipun gak ukk kita juga selalu bermain”
jawabku,
Kita berdua menyadarinya dan tertawa terbahak bersama,
ketika keluar gerbang sekolah kami bertemu Gozali, Dikri, Anwar, Tyo, Ildan dan
Fahmi. Mereka jalan kearahku dengan wajah penuh sumringah dan serasa beban yang
berat selama berbulan-bulan telah hilang menguap di angkasa.
“yan, ayo nanti sore kita main terus kita nginap dirumahmu
ya ?” ajak Gozali,
“iya iya ayok saja, tapi keliatannya dirumahku gak ada
makanan yang cukup buat kalian ber delapan” jawabku,
“kami bertiga gak ikut kok yan” aku Tyo, Ildan dan Fahmi,
“lah kenapa ?” tanyaku,
“gak papa kalau main kita boleh tapi kalo nginep kita gak
diijinin” jawab Tyo,
“yaaah sayang sekali yasudah kalau begitu gak papa kok”
jawab Irul,
Lalu kami berpisah di tengah jalan semua mengambil jalur
yang mengarah ke rumah masing-masing aku juga sumringah berjalan dengan riang
dan berjalan dengan penuh senyum bahagia sepanjang jalan menuju rumah.
“Assalamualaikum” salamku dirumah, “Waalaikumsalam” jawab ibu,
“eh udah pulang anak ibu ?” sambut ibu,
“udah dong” sambil memegang dan mencium tangan ibu,
“gimana tadi ujiannya ?” Tanya ibu,
“Alhamdulillah bu bisa” jawabku,
“Alhamdulillah kalau begitu, ini jawab bisa karena
bener-bener bisa atau gak bisa nih ?” Tanya ibuku lagi,
“hehehe ya ada yang bisa ada yang gak bisa juga sih”
jawabku,
“hehehe baiklah, cepat ganti baju dulu sana biar segar”
perintah ibu,
“baik bu” aku mengiyakan sambil menaruh sepatuku di rak dan
berjalan menuju kamarku.
Leganya bisa melihat kamar lagi dengan suasana yang sejuk di
hati dan nyaman pula, namun ada beberapa sudut kamar yang banyak sekali bukuku
yang terletak berantakan, aku mulai membersihkannya dan mulai menatanya kembali
di meja belajarku, capek memang namun melihat kamar yang kembali bersih hilang
rasa lelah dan capek tersebut. Lalu, aku ganti baju sesuai dengan perintah ibu
memilih baju yang nyaman dipakai setelah itu pergi ke kamar mandi untuk
membersihkan kaki dan tangan, tak lupa mengambil wudlu untuk melaksanakan
sholat dhuhur, kembali ke kamar dan melihat kamar lagi tak ada rasa yang lebih
nyaman memang, segera aku melaksanakan sholat. Setelah sholat aku pergi ke
dapur dengan niatan mengambil keripik kentang namun ibu mengajakku untuk makan
siang terlebih dahulu, dan aku mengiyakan perintah ibuku. Aku makan sambil
lihat tv di ruang keluarga, sambil melihat kartun anak kembar, senang rasanya
akan menjalani libur panjang setelah ini.
Tanpa terasa hari semakin sore, Irul sudah datang dengan
membawa camilan yang lumayan banyak “Assalamualaikum” teriak irul,
“Waalaikumsalam” jawab ibuku, “eh irul, masuk sini mau menginap ya ?” Tanya ibuku,
“iya te kita mau menginap” jawab irul,
“kita siapa ? kan cuma Irul aja ? Tanya ibu,
“ada aku, gozali dan anwar te” jelas Irul,
“oh masih ada lagi toh ? yasudah silahkan masuk rian ada
dikamarnya” ajak ibuku,
setelah dikamar, kami berbincang lumayan lama hingga maghrib
tiba,
“wah udah maghrib nih, si gozali dan anwar kok belum dating
ya ?” Tanyaku,
“iya padahal camilannya juga mau habis” jawab Irul,
“iya kamu kalo ada camilan selalu nomor satu rul, yasudah
ayo ke musholla” ajakku, Irul hanya tertawa kecil.
Kami berdua mengambil wudlu, dan Irul meminjam sarungku
karena dia gak bawa sarung sendiri dari rumah. Setelah sampai di masjid kami
juga tidak bertemu Gozali, namun kamu bertemu Anwar.
“anwar kenapa gak kerumah ?” ajak Irul,
“iya gozali masih keluar, aku habis maghrib mau kesana”
jawab Anwar,
“owalah oke-oke cepetan ya camilan mau habis” ajak Irul yang
hanya ditanggapi acungan jempul dari Anwar.
Setibanya dirumah, aku dan Irul bberbincang-bincang masalah
komik yang baru-baru ini keluar yang berjudul “funny pirates” komik itu
berkisah anggota bajak laut yang memiliki tujuan berbeda-beda namun Karena
perbedaan itu mereka menjadi sangat kuat. Tak lama membahas itu Gozali dan
Anwar pun datang, kali ini Gozali dan Anwar membawa lebih banyak camilan.
“woooh banyak sekali camilannya” seru Irul,
“yaa ini hanya untuk kita berempat” jawab Gozali,
“berempat ? yang lainnya ?” tanyaku,
“ya, mereka gak bisa datang keluar sama keluarganya,
makan-makan” jawab Anwar,
Kami berempat tertawa terbahak-bahak mengingat kembali
bagaimana awal kita bertemu, dan kelucuan-kelucuan yang terjadi selama kita
bersama-sama, bermain bersama apalagi ketika Gozali mengajak kami memancing namun
ternyata mincing di kolam buatan bukan di sungai, kamipun terbahak-bahak
mendengar cerita lucu yang kami perbuat dan kami ceritakan kembali. Jam
menunjukkan pukul 8 malam.
“Assalamualaikum” ada orang berteriak salam dari luar,
“ eh itu ayah” jawabku, “bentar ya aku ketemu ayahku dulu”
seruku,
“oke” jawab mereka,
“Waalaikumsalam, ayaaaaaah” teriakku sambil berlari,
“duh senangnya yang sudah libur, denger denger ada yang
menginap ya ? ini ayah bawa nasi goring baaaanyaaak” seru ayah.
Irul, Gozali dan Anwar [un keluar untuk salim kepada ayahku,
“eh kalian, ini nih om bawakan nasi goring buat kalian” seru
ayahku,
“wih makasih ya om, kebetulan kita sudah lapar juga” jawab
Irul, yang kemudian ayahku dan teman-temanku tertawa terbahak-bahak mendengar
pengakuannya.
“sudah-sudah ayo disiapkan di meja makan ya” kata ayahku,
“siap” kami menjawab,
Kami pun senang karena dibawakan nasi goring oleh ayahku,
kami makan dengan lahap dan tidak berbincang sama sekali ketika makan nasi
goring kelihatannya kami semua memang lapar, selepas makan kita pergi ke
kamarku lagi berbincang-bincang yang kemudian
“ayah boleh masuk ?” Tanya ayahku,
“Karena sudah belikan kami nasi goring ya boleh lah om”
jawab Gozali kamipun terbahak-bahak,
“bisa aja kamu” sambil mengusap kepala Gozali,
“oh iya ngomongin apaan sih kok pada seru banget ?” Tanya
ayah,
“ngomongin ini om, pelajaran di sekolah” jawab Anwar,
“ah iya kah ? gimana pelajarannya ? seru ?” Tanya ayahku,
“ya ada yang seru ada yang gak om” jawab Anwar,
“apa yang gak seru ?” Tanya ayahku lagi,
“mat !” kami berempat menjawab serentak dan ayahku hanya
bisa terkagum melihat kekompakkan kita dan dilanjutkan tertawa,
“bagaimana bisa kalian bersama-sama menjawab mat ? hahaha”
Tanya ayahku,
“iya karena matnya sulit yah” jawabku,
“iya iya ayah tau kok, emang cita-cita kalian itu apa sih
kalau ayah boleh tau ?” Tanya ayahku,
“aku pengen jadi polisi om” jawab Irul,
“kalo aku pengen jadi polisi juga kayak Irul” jawab Gozali,
Irul hanya menanggapi “eh ?”
“aku pengen jadi tentara
om” jawab Anwar,
“kalo anak ayah pengen jadi apa ?” Tanya ayah kepadaku,
“aku pengen jadi arsitek” jawabku,
“woaaah cita-cita kalian hebat-hebat semua loh, tapi semua
cita-cita yang kalian pilih itu harus jago matematika loh” ujarnya,
“iya kah yah ?” tanyaku,
“wah mulai sekarang kita harus belajar matematika dengan
serius dong ?” Tanya Irul,
“iya, tidak hanya matematik, semua ilmu harus dipelajari”
jawab ayahku,
“yasudah ayah istirahat dulu ya, kalian harus tetap semangat
menggapai cita-cita kalian” ujar ayahku,
“ya !! pasti siap om” ujar kami berempat.
Cita-cita kami memang masih memerlukan jalan yang panjang
dan masih banyak juga rintangan di depan yang lebih sulit yang akan menghadang
kami, namun bagaimana kami menghadapi itu dan melewatinya, kami harus tetap
berusaha semaksimal mungkin untuk menggapai cita-cita kami. (WAH)

Komentar
Posting Komentar