Bayang Kecil : Amarah Sahabat


Malam minggu kali ini cerah, terlihat begitu banyak bintang di langit, aku sedang menunggu Irul dan Gozali menjemputku untuk diajak bermain petak umpet seprti biasanya di pos dekat masjid.
“yaan riyan ayook main” teriak Irul
“oke-oke bentar ya aku ijin dulu” jawabku, aku masuk ke dalam rumah untuk ijin,
Tak lama aku keluar lagi “ayo lets go !!” ajakku,
Saat di jalan menuju pos,
“kamu kenapa goz ? kok murung gitu ?” tanyaku,
“gak papa kok santai aja” jawab gozali, namun dari wajahnya yang menampakkan senyuman yang palsu yang menandakan bahwa dia lagi ada masalah,
“eh di pos ada banyak anak loh, katanya”, ujar Gozali mengalihka perbincangan.
“iya kah ? wah bakalan seru nih main petak umpetnya”, seru Irul.
“wah jadi gak sabar nih main bareng banyak anak, pasti sulit ini menemukannnya”, ujarku.
Sesampainya di pos, apa yang dikatakan Gozali lumayan benar karena sudah ada lima anak yang ada disana yaitu Dikri, Anwar, Tyo, Ildan dan Fahmi, “lumayan deh delapan anak yang main” ujar Gozali,
“ayo sudah cepat main !!” ajak Dikri,
“iya sudah lama kami menunggu, ayo mulai hompimpa” ajak Tyo,
Kami berdelapan berteriak dengan semangat “Hompimpa !!”
Anwar dan Gozali keluar karena beda, kamudian kami berenam melanjutkannya, “hompimpa !!” Irul dan Tyo keluar, tinggal aku, Ildan dan Fahmi yang akan melakukan hompimpa namun kali ini apabila beda langsung jadi yang jaga. “hom...pim...paa!!!” aku meletakkan putih diatas, dan ternyata aku juga yang jadi untuk pertama kali.
“wahahahaha kau jaga yaan” ujar Dikri,
“iya iya aku juga tau dik” jawabku ketus,
“sudah sana sembunyi aku hitung sampai tigapuluh” lanjutku,
“satuu... duaa.... tigaa....” aku mulai menghitung dan yang lain sibuk mencari tempat sembunyi,
Tak lama kemudian, dalam benakku “kok udah gak ada suara ? sepertinya udah selesai”
“dua sembilaaaan... tiga puluuuh...selesai gak selesai ku cari” dengan cepat ku memalingkan badan “lah kok sepi banget ya ? harus darimana dulu ya ?”
Pertama, aku mencari di belakang pos, ternyata disana ada Dikri, “wah kena kamu dik” teriakku, terdengar suara terkekeh di sekitar tanaman pos, aku kesana dan ternyata Irul dan Anwar berdebat karena memiliki tempat persembunyian yang sama “hahaha kalian ngapain ? malah bertengkar ?” tanyaku sambil tertawa, “ini nih Irul gak mau cari tempat lain” ujar Anwar, “enak saja aku dulu yang disini war” bela Irul,
“hahaha sudah sudah tetap saja kalian kena” ujarku, kemudian Fahmi ketemu juga di sekitar rumahnya juga yang kebetulan  dekat dengan pos. Aku tidak bisa mencari Tyo dan Ildan karena mereka sulit sekali dicari “hahaha kamu gak bisa cari kita yan ?” ujar mereka berdua, “iyalaah gak bisa kalian sembunyi dibawah gorong-gorong, mana bisa aku tau kalian” jawabku. “yasudah karena  udah ketemu semua sekarang kamu yang nentuin siapa yang jadi ? kecuali Tyo dan Ildan, yan !!” suruh Irul.
“siap bos, aku akan milih Gozali karena dia yang pertama kali ketemu” jawabku,
“loh kok aku ?” Tanya Gozali dengan nada tinggi,
“iya kan aku yang nentuin, soalnya kamu ditemuin pertama kali Goz” ujarku,
“gak mau ! gak adil aku mau pulang aja kalo gitu !” dengan marah dan meninggalkan kami,
“yasudah kalo gak mau, dasar curang ! ayo main lagi kawan biarkan Gozali” jawabku,
Karena Gozali pulang kamu hanya bermain tujuh orang dan yang selanjutnya jaga adalah Irul karena kalah suit dengan Anwar, begitulah kita bermain hingga malam dan kami mulai kecapekan,
“rul, ayo pulang capek nih” ajakku,
“iya ayok yan” ujar irul,
“hey kami pamit pulang dulu ya kawan kawan daahh” teriak Irul
“oke-oke hati-hati di jalan yaaa” jawab mereka berlima,
Dalam perjalanan pulang....
“eh aku ngerasa bersalah deh sama gozali karena omongku kasar tadi” ujarku merasa bersalah,
“iya ayo kesana, aku juga gaenak” ujar Irul juga,
Sesampainya di rumah Gozali,
“goz gozali” teriak kami berdua,
“gausah kesini pulang saja” tanpa sambutan baik, Gozali teriak-teriak,
Kami lama menunggu dengan cemas namun keluar Ibu Gozali, “eh nak Irul sama Rian”
“iya te, kita mau minta maaf sama gozali karena main petak umpet tadi” ujarku,
“iya gak papa kok, memang gimana kejadiannya ?” Tanya ibu Gozali,
“iya te tadi itu gozali disuruh jaga main petak umpet tapi gak mau padahal dia ketemu duluan” ujar Irul,
“iya kah ? wah ini salah gozali”, jawab ibu Gozali
“enggak juga te, saya dan kawan-kawan tadi juga ngomong terlalu kasar juga” jawabku,
“yasudah tunggu sebentar yaa tante masuk ke dalam, memanggil gozali” ujar Ibu Gozali,
Kami menunggu di kursi depan sambil bermain suit yang kalah kena jewer, aku kalah hingga telingaku memerah, “udah ah rul sakit telingaku” ujarku, “salahnya kalahan” ujar Irul sambil tertawa.
“teman-teman maafin aku ya” tiba-tiba Gozali keluar dan meminta maaf,
“eh, iya gak papa kok kita juga salah, kita minta maaf juga ya goz” ujarku,
Kita bertiga bersalam-salaman dan tersenyum kembali, “nah gitu dong yang namanya main jangan ada yang marah-marahan apalagi sampai kayak gini” ujar Ibu Gozali,
“iya kita janji gak bakal marah-marah lagi waktu bermain kok” jawab kita bertiga sambil tersenyum. (WAH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepeda Tua (Bagian Kedua) : Jauh Disana

H.E.R.O

Sepeda Tua (Bagian Pertama) : Manis Pahit