Kenangan Manis: Pelajaran Hidup
Blitar, 14 Januari 2017
Stasiun kota blitar, hujan sore hari
Waktu itu duduk di peron stasiun, menunggu jadwal kereta untuk kembali ke malang setelah seharian berpetualang di kota Blitar. Yang seharusnya kereta berangkat pada jam lima lewat sepuluh sore, namun kutunggu mulai pukul empat, bukan takut ketinggalan kereta hanya saja sudah tidak ada tempat yang dijamah lagi dan hujan.
Terlihat datang dengan becak ibu dengan umur yang mungkin
sudah tidak muda lagi mengendong anak kecil yang sedang menangis, dan dengan
menduga-duga aku berpikir itu adalah cucunya, pikirku tidak asing bagi seorang
ibu yang sudah menjadi seorang nenek, bakal jadi pengasuh anak dari anaknya
sendiri.
Tak kusangka,
ternyata ibu itu duduk disebelahku dan kemudian bertanya kepadaku,
“mau kemana mas ?”
Spontan aku menjawab, “saya mau pulang ke malang bu”.
Setelah lama berbasa-basi dengan nenek yang berasal dari
Surabaya dan dating ke blitar hanya untuk menjenguk anaknya yang ternyata satu
kereta denganku walaupun tidak satu gerbong. Nenek ini menceritakan kisah hidup
anaknya yang sekarang sudah menjadi angkatan bersenjata di kota blitar.
Ada kata-kata beliau yang waktu itu sampai saat ini masih terngiang jelas
dikepalaku.
“anak saya mas, dulu itu daftar kerja dimana-mana gak pernah
ada yang diterima hingga suatu saat saya suruh sholat wajib lima waktunya gak
bolong, sholat sunah, puasa senin-kamis, pokoknya saya suruh ikhtiar,
Alhamdulillah mas kok ya sekarang bisa seperti sekarang, saya sudah bersyukur
melihat dia seperti sekarang.”, cerita ibu itu dengan wajah yang sangat
mesyukuri.
Pada awalnya aku berpikir ibu ini sombong amat ya, namun
ketika kami berpisah di gerbong yang berbeda waktu itu aku baru sadar bahwa ibu
ini memberikan pelajaran hidup yang berarti bagiku dengan mendekatkan diri
kepada yang maha kuasa. Sejak saat itu aku berpikir pelajaran hidup bisa
didapatkan dimana saja dan dari siapa saja, bahkan dari orang yang pernah kamu
piker sekalipun.

Komentar
Posting Komentar