Kenangan Manis: Kebahagian Malam
Listrik padam merupakan hal yang paling menjengkelkan buatku
yang berumur delapan tahun waktu itu. Gelap merupakan hal yang
paling menakutkan, namun tiba-tiba dari halaman rumahku.
“Pan, ayo keluar kita main”, seru Irul.
Irul merupakan sahabatku, dia asli
tinggal disini, dan aku merupakan pendatang waktu itu, yaaaa aku pindah ke sawojajar ketika aku berumur tiga tahun. Irul merupakan anak pertama yang
kutemui waktu itu, dia anak yang periang walaupun sering berbohong dan
menjadikanku tumbal dengan kepolosanku.
“main kemana ? ini udah malam dan mati lampu juga”, jawabku
dengan ragu.
“udah ayok, semuanya udah kumpul di depan rumahku ajak orang
tuamu juga ya”, ajak irul sekali lagi,
Tanpa berpikir panjang, waktu itu aku langsung mengajak
kedua orang tuaku untuk berkumpul di depan rumah irul.
Sesampainya disana ternyata sudah banyak yang berkumpul, sekitar
kurang lebih tujuh keluarga berkumpul, mereka menyiapkan kayu bakar dan ketela
pohon untuk melakukan pesta api unggun di kampong. Waktu itu keluarga irul memang
punya lahan yang ditanam dengan ketela pohon.
Tak lama berselang api unggu telah menyala dan tak lupa
menaruh ketela pohon di tengah bara api yang semakin membesar, sambil meninggu
ketela matang. Aku irul dan teman lainnya bermain seadanya disana mulai dari
bermain angkot (angkutan kota) milik ayah irul, hingga berlarian kesana kemari
tidak jelas.
Hingga akhirnya listrik menyala kembali, namun ketela sudah
terlanjur matang, tidak ada kata kembali ke rumah sebelum hidangan habis. Sambil
memakan ketela hingga habis semua keluarga berbincang hingga tak tahu arah
perbincangannya namun seru dan sangat erat. Setelah hidangan habis dan api
unggun juga padam, semua kembali ke rumah masing-masing.
Tak terasa waktu itu, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam,
merupakan jam tidur paling malam untuk anak seumuranku waktu itu. Kebahagiaan malam itu merupakan malam yang tak
dapat kulupakan, bahkan sampai saat ini.

Komentar
Posting Komentar