Bayang Kecil : Lima Serangkai
dulu, awal aku mulai masuk SD dengan harapan mempunyai banyak teman banyak, yang seru-seru dan bersenang bermain-main. Kulangkahkan kaki kecilku dengan dituntun ibuku yang penuh rasa bangga karena ini adalah hari pertama anaknya sekolah di SD, tiba tiba seorang guru datang dan menyapa “hai namanya siapa ?”
Entah apa yang ada dipikiranku saat itu “huwaaaaa “ aku
hanya bisa menangis dan meronta-ronta untuk menahan ibuku meninggalkanku.
Setelah guru-guru dan ibuku berhasil menenangkanku tiba saatnya aku diajak
masuk ke dalam kelas yang sangat ceria dengan senyum polos ku disana sudah
terdapat banyak sekali anak, aku menunggu dengan harapan ibuku juga menemani
aku di dalam kelas namun tak kunjung masuk, mataku mulai berkaca-kaca dan ingin
menagis lagi, namun seorang guru tiba-tiba datang dan membuka kelas “selamat
pagi anak-anak, saya bu guru aris”.
“bisa saya absen ?” Tanya Bu Aris,
“bisaa” semua menjawab serentak, aku masih terdiam saat itu,
Mulai lah disebut absen pertama, hingga namaku disebut aku
nangis meronta-ronta mencari ibuku, seketika semua anak di kelas itu menoleh
kepadaku melihat hal seperti itu membuat semakin deras air mataku mengalir
turun dengan teriak-teriak, namun seketika ada empat anak yang ternyata juga
dari kampungku yaitu Irul, Gozali, Emon dan Lita merek berusaha menenangkanku
dan tak lupa juga Bu Aris “hayoo sudah masa udah gede masih nangis, ini ada
temennya loh, yasudah kalian berempat temani rian disini ya”. Mereka berempat
menganggukkan kepalanya. Aku masih terisak-isak karena tangisanku, bajuku basah
dengan air mataku. “kamu ini jangan nangis udah” kata Irul tegas, “eh jangan
kasar gitu rul” ungkap Lita menenangkan Irul yang geregetan. “udah-udah santai
aja semuanya rian juga jangan nangis lagi ya” ajak Gozali.
Setelah itu, “yak anak-anak perkenalan telah selesai
sekarang waktunya istirahat ya”
Pada waktu istirahat, kami berlima hanya duduk di teras
kelas, “yuk main sama yang lainnya” ajak Irul. “ayook” ajakku
“yeee tadi nangis-nangis sekarang mau main” celetuk Irul
“udahlah rul, gak papa” jawab Lita
“gak tau nih irul” jawabku
“iya iya maaf” jawab Irul sambil tertawa kecil
Kami pun senang bermain dengan teman baru di sekolah, kami
bermain sampai lupa waktu tanpa terasa waktu istirahat sudah selesai.
“krriiiing”
“wah udah bel, udah masuk tuh” Emon bilang ke teman-teman
“ayo-ayo masuk” jawab Gozali
Semua akhirnya masuk, dan Bu aris pun juga masuk tak lama
berselang “gimana ? bu uru liat mainnya seru tadi”
“iya, seru bu guru!!!!” seru anak-anak
“tidak ada yang jatuh kan ?” Tanya bu aris
“tidak ada bu guru!!!” seru anak-anak
“yasudah kalau begitu, sekolah hari ini di akhiri kalian
semua boleh pulang”
(semua langsung meninggalkan kursinya)
“loh kok langsung pulang ?” semua memandang kea rah Bu Aris
“berdoa dulu dong anak-anakku” seru bu aris
“oiyaa, ayo cepat duduk kembali” seru anak-anak sambil
kembali ke tempat duduk masing-masing
“berdoa dimulai” semua murid termasuk aku berdoa dalam hati
“berdoa selesai, member salam!!!”
“selamaaaaat siaaaaang buuu!!!” dengan semangat anak-anak
mengucapkannya
“selamat siang, sampai jumpa besok” satu-persatu anak-anak
salim dan, ketika aku bersalaman “besok
jangan nangis lagi ya” kata Bu Aris sambil tersenyum aku hanya mengangguk dan
senyum. Itulah awal cerita SD ku waktu itu meskipun sedikit memalukan tapi
sangat berkesan apalagi memiliki empat teman yang siap dikala aku membutuhkan
mereka. (WAH)

Komentar
Posting Komentar