Kebersamaan yang Tertunda
Seorang anak bernama Kilo dia tinggal bersama ayahnya di
sebuah gubuk tua di pinggir pantai. Hari ini genap usianya berumur tujuh tahun,
setiap hari dia bangun pagi-pagi hanya untuk merasakan angin pantai yang
menghembus, dan sempat juga dia membersihkan daerah rumah dari cumi-cumi, dan
seperti biasanya juga dia selalu melihat ayahnya pulang dari arah laut dengan
perahu kecil yang berusaha didayungnya menuju daratan. “hai ayah” sapa Kilo,
“hai anakku” ayah Kilo turun dan mendekati anaknya, diangkat, dipeluknya Kilo.
“Kilo mau makan apa ?” Tanya ayah, “aku mau telur saja yah”
dengan cekatan ayah Kilo menyajikan sarapan untuk berdua “bagaimana pekerjaan
ayah ?” Tanya Kilo, “iya baik-baik saja seperti biasa” jawab ayah Kilo. “ayah
lupa hari ini hari apa ?” Tanya Kilo, ayah memandang sekitar mencari kalender
“hehehe ini hari ulang tahunmu kan ?” jawab dengan nada tidak yakin, “iyaaaa
ayah ini hari ulang tahun kilo apa ayah lupa ?” dengan nada ngambek, “ya sudah
nanti malam ada kejutan buat Kilo” oke ayah.
Setelah waktu sarapan selesai ayah Kilo sudah tidur lelap
ya, karena ayah Kilo bekerja pada malam hari bukan siang jadi setiap siang ayah
Kilo selalu tidur dengan lelap. Karena seperti ini Kilo biasanya pergi ke desa
untuk bermain bersama anak kecil disana hingga siang hari. Matahari telah di
atas kepala, bayangan mulai memendek dibawah kaki “wah udah siang, aku pulang
dulu ya, bye” pamit Kilo. Ketika di rumah sudah terdapat makan siang namun ayah
Kilo masih tertidur lelap tanpa pikir panjang Kilo langsung menyantap hidangan
tersebut. Karena terlalu kenyang Kilo merasa mengantuk dan tertidur lelap.
Menjelang malam ayah Kilo sudah bersiap berangkat sedangkan
Kilo masih baru saja bangun tidur “ayo Kilo mau ikut tidak ?” Tanya ayah, “iya
ayah aku ikut sebentar ya aku mandi” jawab Kilo dengan semangat. Beberapa waktu
kemudian.... “ayo ayah aku udah siap” sambil berlari menuju kapal kecil dengan
dua dayung disana “ini dayung bantu ayah ke tengah laut ya” ajak ayah Kilo,
“siap yah” Kilo mendayung perahu kecil itu dengan penuh semangat perjalanan itu
menempuh waktu yang cukup lama Kilo sudah mulai bosan. “ayaaaaah apa masih lama
?” Tanya Kilo dengan nada malas, “tidak habisini sudah sampai”
Terlihat dari jauh sebuah lampu yang bertebaran menarik
garis lurus seperti sebuah pulau yang ramai banyak manusia tinggal disana, “apa
itu tempat ayah bekerja ?” Tanya Kilo, “iya disana ayah bekerja setiap malam”
jawab ayah, “ayo dayung yang semangat biar cepat sampai” ajak ayah, “oke ayah”
setelah kembali semangat Kilo semakin cepat mendayung, semakin cepat pula
mereka sampai di dermaga disana mereka disambut oleh seorang wanita seumuran
ayahnya “hai apa kabar Kilo ?” sapa wanita tersebut dengan mata berkaca-kaca.
“siapa dia ayah ?” Tanya Kilo, “dia ibumu aya peluk dia mulai hari ini kita
tinggal disini dan meninggalkan gubuk kita yang ada disana Kilo, kita memulai
hidup yang baru bersama Ayah, Ibu, Kilo dan adik Kilo yang ada dirumah”
ternyata selama ini ayah kilo merahasiakan semua ini dari Kilo dan kini Kilo
tidak lagi sendirian, kini Kilo hidup bahagia bersama adik dan ibunya ketika
ayah bekerja dan kini Kilo juga disekolahkan di kota yang makmur tidak lagi
berada di desa yang terpencil lagi.
Komentar
Posting Komentar