Lima Petualang Kuadran (Bagian 3)



Mereka berlima tetap berjalan menyusuri jalan yang entah kemana akhirnya, Be menemukan kendaraan yang sudah tua didekat pohon “lihat itu ada mobil, mungkin kita bisa menggunakannya Bu coba kau perbaiki”, “iya siap Be”. Ketika yang lainnya menunggu Bu memperbaiki mobil Bo ijin untuk mencari makan untuk malam, “kak, aku nyari makanan dulu ya ?”, “iya Bo nyari makanan yang banyak ya jangan dimakan sendiri” bercanda Bu. Bo mulai mencari makanan karena dia dibekali panah dia mencari hewan yang kira bisa dibakar dia menelusuri hutan untuk mencari sungai dan mengambil ikan, ketika hampir sampai di sungai dia bertemu dengan kakek tua dalam hati Bo berbicara “terlihat dari pakaiannya dia anggota Number” dia langsung menyiapkan anak panahnya dan bersiap untuk memanah kakek tua tersebut “jangan nak, mau kau apakan aku ?” teriak kakek tersebut. “kau anggota number yang telah membunuh orang tua dan rakyat alphabet” sambil memejamkan mata, kakek tua tersebut terdiam termenung sementara Bo perlahan meletakkan anak panah dan menangis tersedu-sedu merindukan kedua orangtuanya. “kini aku harus mengelilingi planet ini berjuang bertahan hidup, apa kurang penderitaanku ini hah!!!” kakek tersebut semakin termenung dan “kau bilang kau hidup bersama kakak-kakakmu ? apa kalian semua berlima ?” Tanya kakek tersebut. “iya kami berlima” jawab Bo sambil mengusap air matanya, “ternyata ini semua akan terjadi”, “apanya yang terjadi kek ?” Tanya Bo, “iya Kerajaan Number akan jatuh di tangan lima remaja yang sudah diramalkan sebelumnya” jelas kakek tersebut, “oiya nama kakek furo siapa namamu ?”, “namaku Bo anak terakhir dari lima bersaudara”.  “ngomong-ngomong apa yang kamu cari disini ?” Tanya kakek tersebut sambil berjalan menuju ke sungai, setiba di sungai Bo langsung memanah ikan namun selama satu jam Bo tidak mendapatkan ikan satupun, berbeda dengan kakek yang tanpa menggunakan alatpun sudah mendapat banyak ikan. “belum dapat ikan tuh ?” Tanya kakek, “iya belum kek susah kalo makai panah” jawab Bo, “coba kamu coba lakukan lagi” suruh kakek, dan Bo melakukannya “aahh aku tau apa masalahmu kamu masih tidak tenang menghadapi pergerakan ikan dan itu membuatmu tidak tenang, jangan tergesa-gesa lakukan saja seperti angin berhembus”.
Di lain tempat tempat, tepat disaat Bu bisa menyelesaikan mobilnya dia mencoba menyalakan mobil, namun tak lama sekelompok penduduk primitive yang kanibal menangkap mereka, persenjataan mereka dirampas dan dibawa ke tempat terpencil untuk dijadikan tawanan. Bo sangat amat gembira ketika ia dapat memanah ikan sebanyak mungkin karena berguru pada kek Furo dia berhasil membawa banyak sekali ikan dalam ikatannya. Ketika ia sampai di tempat kendaraan ternyata semuanya berantakan “kemana semuanya ?” menoleh kesana kemari “Ba !! Bi !! Bu !! Be !!” teriaknya berulang kali, namun ketika dia mengamati ke tanah dia menemukan jejak kaki aneh dan disana dia berfirasat bahwa kakak kakaknya diculik penduduk setempat. Dia mengikuti arah jejak kaki tersebut. Tidak lama ia menemukan semak-semak yang lebat dan ketika dibuka banyak sekali penduduk primitive yang berjaga namun dia tidak habis akal, dia naik ke pohon yang tinggi dari pohon inilah dia memanah satu per satu penjaga tersebut ketika dia kehabisan anak panah diapun turun dan menggunakan pedangnya. Dia berusaha konsentrasi dan mengingat perkataan kaku Furo untuk tetap tenang dan konsentrasi. Dia keluar dari semak semak dan langsung menyergap penjaga tersebut dan berjalan ke tempat para kakaknya di tahan. Tetapi ketika dia sampai apa yang dia pikirkan tidak sesuai apa yang ia lihat ternyata kakaknya sedang makan bersama kakek Furo dan beberapa penduduk primitif. Kakek Furo bertanya “kau sudah membunuh semua robotku disana ?”, Bo hanya terdiam dan termenung dia menangis tersedu-sedu “kalian jahat, aku khawatir dengan kalian namun kalian malah enak-enakan disini” semua terdiam “tapi... bagi dong” Bo langsung memeluk Bad an semua tertawa terpingkal-pingkal. Bi berbicara “kami semua ingin melatihmu Bo seberapa kuatkah dirimu sendirian melawan alam”, Bu “iya betul bo” menyaut. “apalah kalian ini meragukan si jenius ini”. akhirnya suasana kembali tenang, setelah makan malam kakek Furo menyuruh mereka tidur untuk beristirahat di tenda masing-masing “kalian tidur saja dulu dan besok silahkan bangun pagi-pagi untuk melanjutkan petualangan kalian”. “Iya terima kasih kek” Bo mengucap terima kasih. Matahari pun tiba di ufuk timur, tetapi “kakek furo kemana ?” Tanya Bi, “loh ? kakek furo tidak ada ?” Tanya Ba, namun Bo menemukan sepucuk surat yang berisi 

Untuk kalian berlima, berjuanglah di tanah kelahiranmu
Kerajaan yang kuat bukanlah akhir dari planet ini
Planet ini hanya berharap kepada kalian kaum pemuda
Semangat, emosi, rasional, jujur
Semuanya ada pada kalian
Namun semua itu akan sia sia apabila kalian tidak bisa mengontrolnya
Kami para kaum tua tidak bisa apa-apa lagi dan berharap kepada kalian
Lima petualang kuadran
Kakek furo.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepeda Tua (Bagian Kedua) : Jauh Disana

H.E.R.O

Sepeda Tua (Bagian Pertama) : Manis Pahit